Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Menteri BUMN Erick Thohir Buka Peluang Swasta Jualan Avtur ke Maskapai

Erick minta perusahaan swasta tersebut memproduksi avtur di dalam negeri dan tidak meminta linsensi impor.

Menteri BUMN Erick Thohir Buka Peluang Swasta Jualan Avtur ke Maskapai
Pertamina
Memasuki H+4 Lebaran, Pertamina Marketing Operation Region V melalui unit operasi Depot Pengisian Pesawat Udara (DPPU) Juanda Surabaya dan Ngurah Rai Bali mencatat kenaikan penjualan Avtur masing-masing sebesar 22% dan 4% dari rata-rata normal harian. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ria Anatasia

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mempersilakan swasta untuk menjadi pesaing Pertamina sebagai pemasok avtur.

Hal ini diharapkan bisa membuat harga avtur lebih kompetitif untuk maskapai-maskapai dalam negeri.

Meski begitu, Erick minta perusahaan swasta tersebut memproduksi avtur di dalam negeri dan tidak meminta linsensi impor.

"Saya rasa kan gini, Pertamina bisa memproduksi avtur, kalau swasta yang produksi avtur welcome saja. Yang tidak boleh cuma minta lisensi impor," kata dia di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Rabu (2/12/2019).

Erick mengatakan, pemerintah saat ini tengah berupaya menekan angka impor. Dia tak mau bila pemerintah disalahlan jiwa ada pihak swasta yang mengimpor avtur dari luar negeri.

Pasalnya itu, bisa membuat defisit neraca dagang dari minyak dan gas semakin membengkak.

"Akhirnya nanti kami-kami yang di BUMN atau di kementerian banyak ditugaskan menekan impor migas, tapi dipihak lainnya malah impor. Terus akhirnya kami yang di salahkan lagi," ungkapnya.

Baca: Ucapan Tegas Erick Thohir ke Bos Garuda: Lebih Baik Sebelum Ketahuan Mengundurkan Diri

Erick menjelaskan, saat ini Pertamina pada dasarnya telah mampu memproduksi avtur secara lebih efisien.

Misalnya dengan kehadiran program Biodisel 30 persen atau B30 yang mencampur solar dengan minyak mentah sawit atau minyak nabati sebanyak 30 persen.

"Tinggal benar-benar mau enggak melakukannya. Karena jangan hanya shortcut sekedar hanya mencari keuntungan tapi akhirnya kembali merugikan secara keseluruhan konsep yang sedang dibangun oleh Bapak Presiden. Karenakan kita mau tekan impor migas itu," kata Erick.

Erick menegaskan kembali, bila swasta ingin menjadi pemasok avtur di Indonesia, menurutnya, tak boleh mengimpor.

"Ini catatan kalau produksi, kalau sekedar impor saya nggak setuju," ucap dia.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Ria anatasia
Editor: Fajar Anjungroso
  Loading comments...

Baca Juga

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas