Tribun Bisnis

Harga BBM

Legislator Partai NasDem Nilai Kebijakan Penurunan Harga BBM Tidak Tepat

Rico mengatakan lebih baik akumulasi per liter BBM dari nominal tersebut disubstitusikan ke BPJS Kesehatan.

Editor: Hasiolan Eko P Gultom
Legislator Partai NasDem Nilai Kebijakan Penurunan Harga BBM Tidak Tepat
HandOut/Ist
anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Rico Sia. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) umum jenis bensin (Gasoline) untuk produk Pertamax Series terhitung mulai Sabtu (1/2/2020) pukul 00.00 waktu setempat. 

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman mengatakan penyesuaian berupa penurunan harga produk Pertamax dan Pertamax Turbo.

Fajriyah mencontohkan untuk wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, harga BBM umum jenis Pertamax mengalami penyesuaian dari sebelumnya Rp 9.200 menjadi Rp 9.000 per liter.

Sementara itu, Pertamax Turbo disesuaikan harganya dari sebelumnya Rp 9.900 menjadi Rp 9.850 per liter.

Menanggapi hal tersebut anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem Rico Sia menilai kebijakan menurunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) khususnya Pertamax, tidak tepat.

Rico mengatakan lebih baik akumulasi per liter BBM dari nominal tersebut disubstitusikan ke BPJS Kesehatan.

Hal itu bertujuan mengurangi defisit BPJS Kesehatan atau lebih baik dipergunakan untuk membantu iuran BPJS Golongan III yang baru-baru ini dinaikkan.

"Toh mereka yang punya mobil mewah tidak akan keberatan dengan uang 200 rupiah/liter karena alasannya sangat tepat yaitu membantu masyarakat yang tidak mampu," kata Rico, Sabtu (1/2/2020).

Anggota DPR dapil Papua Barat ini menjelaskan jenis BBM Pertamax dan Pertamax Turbo adalah jenis BBM yang dikonsumsi masyarakat menengah ke atas.

Menurut Rico, hal ini bisa dijadikan aksi nyata gotong royong dalam membantu masyarakat bawah yang mengeluh akan kenaikan iuran BPJS Kesehatan.

Tentu dengan catatan harga jual Pertamina masih di bawah harga kompetitor.

"Misal dari pada diturunkan BBM Rp 200/liter atau Rp 100/liter, lebih baik nominal tersebut disumbangkan untuk BPJS," ujarnya.

Menurutnya defisit senilai Rp. 17 triliun harus dipikirkan bersama, bagaimana defisit ini tidak terus berkepanjangan dan tentu ini harus ditempuh dengan cara-cara kreatif untuk menjadi solusi yang bermanfaat.

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas