Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Rizal Ramli: Ekonomi Indonesia Lesu Bukan Dampak dari Virus Corona

Ekonom senior, Rizal Ramli, menyayangkan adanya anggapan bahwa perekonomian Indonesia lesu akibat merebaknya virus corona.

Rizal Ramli: Ekonomi Indonesia Lesu Bukan Dampak dari Virus Corona
Tribunnews/Irwan Rismawan
Mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli menjawab pertanyaan wartawan usai memenuhi panggilan KPK sebagai saksi terkait kasus BLBI di Gedung KPK, Jakarta Selatan, Jumat (19/7/2019). Mantan Menko Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Ekuin) era Kepresidenan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu dipanggil KPK terkait kapasitasnya sebagai Ketua KKSK periode 2000-2001. Tribunnews/Irwan Rismawan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ekonom senior, Rizal Ramli, menyayangkan adanya anggapan bahwa perekonomian Indonesia lesu akibat merebaknya virus corona.

Sebab, sebelum virus yang dijuluki Covid-19 oleh WHO itu muncul di China, ekonomi Indonesia memang sudah carut marut akibat defisit neraca perdagangan yang semakin melebar dan utang luar negeri yang semakin besar, serta berbagai faktor lainnya.

"Banyak pejabat yang mengaku virus corona nyaris tidak ada di Indonesia. Tapi, ketika IHSG menurun hingga 5300 dan rupiah anjlok Rp 14.262, para pejabat semua bilang akibat corona. Padahal, tanpa corona pun, ekonomi Indonesia semakin nyungsep karena salah-kelola. Benar-benar ilmu pengibulan sudah tingkat Dewa," kata Rizal Ramli yang juga mantan anggota tim panel ekonomi PBB itu, Sabtu (29/2/2020).

Ilustrasi
Ilustrasi (Shutterstock)

Bahkan, sambung Rizal, kebanyakan analis ekonomi hanya mampu mempresentasikan kondisi ekonomi hari ini, bukan prediksi yang akan terjadi ke depan.

Oleh karena itu, Rizal Ramli mengimbau pada ekonom untuk membuat forecast melalui simulasi yang merujuk pada hasil wawancara langsung masyarakat dari semua lapis golongan, sehigga bisa diketahui kondisi realita yang sebenarnya.

"Analis pasar modal dan ekonom konvensional ndak bisa ramalkan apa yang terjadi hari ini 6 hingga 12 bulan yang lalu. Mereka hanya bisa melakukan extrapolasi trend, tidak bisa memperkirakan akan ada ‘struktural break’. Itu terjadi 1996-1997, terulang kembali 2019-2020," tutur mantan Menko Ekuin era Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur itu.

Baca: Deretan Fakta Unik Pilot, Larangan Berjanggut hingga Kemampuan Melatih Stres

Baca: Bharada Doni Priyanto Gugur Tertembak KKB, Polisi Pantau Pergerakan Kelompok Egianus Kogoya

Rizal juga menyinggung perilaku buzzer dan influenser yang kerap menutupi kesalahan tim ekonomi dan kondisi perekonomian Indonesia yang sebenarnya dengan narasi-narasi yang dinilai penuh dengan kebohongan.

Menurut Rizal, hal itu justru akan menjadi masalah besar di kemudian hari.

"Maaf, banyak sekali buzzer yang kerap posting artikel penjelasan pejabat yang rajin melakukan ‘self-denial’ dan ekonom konvensional. Akibatnya beban krisis akan lebih besar untuk bangsa dan rakyat kita, karena rakyat dan bisnis terlena dengan fatamorgana itu, tidak bersiap-siap melakukan tindakan preventif. Kok ndak pernah belajar dari sejarah?" sesal Rizal Ramli.

Rizal Ramli kembali mengingatkan bahwa sejarah terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1998 sebenarnya sudah diingatkan oleh timnya melalui forecast.

Namun, kala itu pemerintah dan tim ekonomi selalu menepis. Alhasil, krisis dan kerusuhan pun terjadi.

"Oktober 1996, Rizal Ramli via ‘Econit Economic Outlook’ meramalkan ekonomi Indonesia akan mengalami krisis akhir 1997 dan 1998. Semuanya terjadi. Pertengahan 2018, RR katakan ekonomi masuki zone lampu kuning, kalau tidak hati-hati, bisa masuk lampu merah akhir 2019-2020," ujarnya.

Baca: Mengaku Pimpinan Bandara Syamsuddin Noor, Pria Ini Lakukan Penipuan Bermodus Jual Tiket Murah

Baca: Nagita Slavina Keguguran setelah Hamil Satu Bulan, Rafathar Beri Perlakuan Manis pada Ibunya

"Pak Presiden Jokowi, peringatan itu adalah “Early Warning Sytem”, sumbangan pikiran RR agar RI tidak mengalami krisis kedua. Biasanya di setiap peringatan itu ada alternatif solusi. Jika diikuti 5 bubbles (gelembung-gelembung) itu: makro, gagal-bayar, daya beli, digital dan pendapatan petani bisa dikecilkan, sehingga krisis bisa dihindari. Tapi karena sikap tertutup dan jumawa, mungkin krisis itu sulit dihindarkan," kata Rizal Ramli.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas