Gantikan Prijono Sugiarto, Djony Bunarto Tjondro Jadi Presdir Baru Astra International Tbk
Priyono Sugiarto ditunjuk menjadi Presiden Komisaris ASII dalam kepengurusan periode baru ini.
Penulis: Sanusi
Editor: Choirul Arifin
Sehingga, kinerja perseroan tetap terjaga karena saling menopang. Buktinya, pada triwulan pertama 2020, Astra secara konsolidasi masih mencatat laba bersih Rp 4,81 triliun, turun 8 persen dari periode yang sama tahun lalu yakni Rp 5,21 triliun.
Sedangkan, pendapatan bersih tercatat Rp 54 triliun, turun 9 persen dari sebelumnya Rp 59,60 triliun. Penurunan ini terjadi karena pandemi Covid-19.
Inovasi
Di tengah situasi yang belum menentu, diperlukan inovasi baru dari manajemen. Inovasi ini penting agar korporasi keluar dari tekanan ekonomi dan berlari kencang mengejar pelemahan kinerja yang tergerus karena pandemi Covid-19.
Head of Investment Research Infovesta Utama, Wawan Hendrayana mengatakan, pada situasi seperti saat ini dibutuhkan kepemimpinan yang bisa membuat inovasi baru dengan memanfaatkan teknologi. Perseroan atau industri seperti inilah yang akan bertahan.
Ia meyakini, Astra akan cepat pulih setelah pandemi Covid-19 berakhir. Alasannya, kalau kondisi industri otomotifnya bisa berproduksi dan jualan lagi, pasti bisa cepat pulih.
Selain itu, Astra juga didukung oleh beragam lini bisnis yang mampu memberikan kinerja positif bagi perseroan.
Senada dengan itu, Direktur PT Anugerah Mega Investama, Hans Kwee juga menekankan pentingnya inovasi baru untuk meraih kinerja yang lebib baik.
Dalam konteks itu, ia berpendapat, perubahan susunan anggota direksi dan komisaris Astra dalam RUPST merupakan hal biasa, yang penting adalah harus properubahan.
Sebab, ASII dinilai sebagai perusahaan yang solid dan besar. Karenanya, prospek saham emiten sektor aneka industri tersebut dinilai tetap menjanjikan.
Dikatakan, perusahaan go public cenderung memiliki ketahanan untuk bertahan di tengah kondisi krisis ekonomi seperti saat ini. Ia menilai, prospek saham Astra masih menjanjikan ke depan.
Asalkan diikuti perubahan model bisnis, seperti efisiensi. Selain itu, perusahaan juga harus mampu mengubah strategi bisnis demi mendongkrak kinerjanya.
Ke depan, tuturnya, lini bisnis keuangan tetap masih menjanjikan, demikian pula dengan komoditas diprediksi akan meningkat. “CPO menjanjikan karena biofuel,” ujarnya. Selain itu, suku cadang mobil juga masih menjanjikan karena walaupun orang tidak beli mobil, tetapi servis kendaraan terus berjalan.
Di lini bisnis otomotif, ujarnya, ASII dinilai masih prospektif meskipun penjualan produk saat ini terpukul. Menurutnya, permintaan produk otomotif, terutama mobil diperkirakan masih akan banyak.