Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Banyak Perwira Pelaut Indonesia Memilih Berlayar di Kapal Luar Negeri, Mengapa?

Berdasarkan data, Indonesia menjadi negara ketiga terbesar supplier pelaut di dunia dengan rincian level officer 774 ribu dan level ratings 873 ribu.

Banyak Perwira Pelaut Indonesia Memilih Berlayar di Kapal Luar Negeri, Mengapa?
Ditjen Perhubungan Laut-Kemenhub
Sebanyak 467 orang pelaut berkewarganegaraan Indonesia yang akan bekerja sebagai Anak Buah Kapal (ABK) Kapal Pesiar milik AIDA Cruise, Rabu hari ini(23/7/2020) telah tiba di Jerman. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asisten Deputi Keamanan dan Ketahanan Maritim Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Basilio Dias Araujo menyampaikan masih banyak perwira pelaut lulusan sekolah-sekolah negeri memilih kerja di luar negeri.

Berdasarkan data, Indonesia menjadi negara ketiga terbesar supplier pelaut di dunia dengan rincian level officer 774 ribu dan level ratings 873 ribu.

"Data 2015, pelaut kita nomor ketiga terbesar, bisa dibayangkan betapa besarnya negara kita menguasai sektor ini," kata Basilio saat webinar di Jakarta, Kamis (30/7/2020).

Kata Basilio, menurut data Kementerian Perhubungan per 7 Juni 2020, jumlah pelaut Indonesia saat ini tercatat 1.172.508 orang.

Baca: 57 Pelaut Terpapar Covid-19 secara Misterius, Sebelum Berangkat Semua Kru Negatif

Sementara perwira pelaut yang dihasilkan berkisar 3.500 lulusan dari berbagai sekolah/akademi pelayaran, sedangkan lulusan satuan BRDSM KKP sekitar dua ribuan per tahunnya.

Baca: Hari Pelaut Sedunia 2020, Kemenhub Apresiasi Jasa Pelaut Dukung Kelancaran Logistik di Masa Pandemi

Sayangnya, jumlah lulusan perwira pelaut tersebut tidak sebanding dengan jumlah kapal yang beroperasi di atas 150 GT.

Sumber dari Dirjen Perikanan Tangkap KKP, Indonesia mencatat Indonesia hanya memiliki 847 kapal untuk ukuran 100-200 GT, dan 11 kapal untuk ukuran kapal motor di atas 200 GT.

"Sampai saat ini Pemerintah kita masih melarang kapal di atas 150 GT untuk beroperasi. Sangat disayangkan Indonesia mengambil posisi ini, karena laut ZTE kita sangat luas," terang Basilio.

Atas kondisi itu, Basilio memandang perwira pelaut Indonesia memilih menjadi pekerja imigran karena kapal besar yang bisa menampung mereka tidak ada.

"Anak-anak kita yang sekolah di pelayaran itu kebanyakan untuk kapal-kapal besar," tukasnya.

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas