Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pupuk Indonesia Masih Kaji Lokasi untuk Pembangunan Pabrik Pupuk dan Methanol di Papua Barat

Pupuk Indonesia masih akan mengkaji lebih dalam terkait pemilihan lokasi pembangunan pabrik pupuk dan methanol di Papua Barat.

Pupuk Indonesia Masih Kaji Lokasi untuk Pembangunan Pabrik Pupuk dan Methanol di Papua Barat
dok Pupuk Indonesia
ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Pupuk Indonesia (Persero) masih akan mengkaji lebih dalam terkait pemilihan lokasi pembangunan pabrik pupuk dan methanol di Papua Barat.

Direktur Utama Pupuk Indonesia, Bakir Pasaman mengatakan bahwa saat ini lokasi di Papua Barat yang dipertimbangkan yakni Bintuni dan Fakfak, dengan mengacu pada nilai keekonomian.

Baca juga: KSP dan Kemenperin Dukung Revitalisasi Industri di Pupuk Kaltim

"Kami juga sudah bicara dan didukung Pak Bahlil, Menteri Investasi, karena beliau adalah putra daerah, jadi beliau akan mencarikan juga lokasi alternatif yang lebih murah dan ekonomis. Masalah lokasi ini kami akan kaji lebih dalam. Lokasi belum firm," kata Bakir Pasaman dalam rapat kerjanya bersama Komisi VI DPR, Kamis (24/6/2021).

Baca juga: Pupuk Indonesia Gandeng Genting Oil Kasuri Penuhi Kebutuhan Gas Bumi

Bakir menerangkan, pihaknya merencanakan kapasitas amonia 2500 Metric Ton Per Day (MTPD), Urea 3500 MTPD dan Methanol mencapai 3000 MTPD.

Proyek Bintuni akan berada dan dilaksanakan oleh PT Pupuk Kaltim. Khusus untuk proyek methanol, rencananya akan dilakukan secara Join Venture dengan partner strategis, dimana Pupuk Kaltim akan bertindak sebagai mayoritas.

Baca juga: 11 BUMN Klaster Pangan dan Pupuk Kolaborasi Riset dan Pengembangan Talenta

"Kebutuhan pendanaan untuk proyek Bintuni direncanakan dipenuhi dari rencana IPO PKT, rencana dilakukan di kuartal kedua 2022," terang dia.

Untuk suplai gas, sambung Bakir, pihaknya sudah mengajukan alokasi gas pada Januari 2021 kepada Kementerian ESDM.

Untuk amonia urea sebesar 102 BBTUD, sementara methanol 99 BBTUD. Penandatanganan MoU gas dengan Genting Oil sendiri sudah dilakukan pada 17 Juni 2021 dengan target PJBG pada Desember 2021.

"Alhamdulilah sudah dimediasi dengan baik oleh Kementerian ESDM dan SKK Migas, kami sudah negosiasi dan hasilnya cukup bagus. Harga gas yang disepakati antara PI dan Genting Oil untuk Amonia Urea dan methanol di angka 3,6 dolar AS + Formula. Cukup kompetitif," terangnya.

Editor: Sanusi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas