Tribun Bisnis

Wajah Baru Net1, Hadir untuk Atasi Kesenjangan Internet di Pelosok

Wilayah perdesaan dan daerah tertinggal memang sudah merupakan area nyaman yang menjadi fokus perusahaan sejak 2008.

Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Malvyandie Haryadi
zoom-in Wajah Baru Net1, Hadir untuk Atasi Kesenjangan Internet di Pelosok
ist
ILUSTRASI-- Net1 Indonesia (PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Eko Sutriyanto 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Meskipun pengguna internet di Indonesia terus naik mencapai 196,7 juta, ketimpangan akses internet antara perdesaan dan perkotaan masih menjadi persoalan mendasar.

Wilayah perkotaan yang mayoritas berada di Pulau Jawa menyumbang kontribusi impresif terhadap pertumbuhan tersebut, berbeda dengan akses internet untuk daerah perdesaan, apalagi berkategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

PT Net1 Indonesia yang hadir sebagai entitas baru pemain telekomunikasi di Indonesia  rupanya tidak tergiur dengan ceruk pasar telekomunikasi di perkotaan dan lebih memilih melayani kebutuhan internet untuk masyarakat di perdesaan dan daerah tertinggal.

Wilayah perdesaan dan daerah tertinggal memang sudah merupakan area nyaman yang menjadi fokus perusahaan sejak 2008.

Baca juga: ICON+ Luncurkan Program Promo Bundling Electrinet Lifestyle, Layanan Internet dan Listrik Kian Andal

Melalui PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (“ PT STI”), perusahaan sebelumnya, produk utamanya adalah Ceria berbasis CDMA.

Namun, karena persaingan berbasis GSM dan kemudian layanan 3G, perusahaan akhirnya tidak dapat menghindar dari nasib sama yang menimpa operator GSM lainnya, yang kehilangan banyak pelanggan. 

Waktu bergulir, sebuah perusahaan asal Skandinavia, terbilang sebagai operator ketiga terbesar di Norwegia, yang sudah berpengalaman di bisnis internet berbasis frekuensi 450Mhz, tengah gencar memperluas jaringan bisnisnya dengan sasaran pertama di Asia.

Gayung bersambut, Net1 Group pada akhirnya masuk ke pasar Indonesia dengan melakukan investasi di PT STI pada 2015.

Bahkan menjadi pemegang saham mayoritas pada 2017. Selain di Indonesia, Net1 Group juga berinvestasi pada frekuensi rendah yang sama di Filipina.

Pada keterbukaan informasi Desember 2015 lalu, CEO AINMT Holdings AB  JD Fouchard mengatakan, dengan perjanjian dan transaksi yang baru saja diselesaikan di Philipina, AINMT memiliki jejak di Asia Tenggara yang mencakup 360 juta penduduk.

AINMT adalah nama sebelumnya dari Net1 Group.

Di dua negara tersebut, lanjut dia, Net1 fokus memanfaatkan jaringan berfrekuensi rendah untuk melayani kebutuhan internet di wilayah perdesaan dan daerah tertinggal.

Larry Ridwan, yang pernah menjadi Presiden Direktur Net1, ketika dikonfirmasi, membenarkan bahwa Net1 Group sudah menjadi mayoritas sejak 2017.

Baca juga: Google Bagikan Tips Menjaga Keamanan Anak dan Keluarga di Internet

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas