Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Pengamat Sebut PPKM Darurat Diperpanjang 5 Hari Bisa Dorong Pelemahan Rupiah

Pengamat memperkirakan nilai tukar mata uang Garuda bisa anjlok hingga melebihi level psikologis Rp 14.500 per dolar AS.

Pengamat Sebut PPKM Darurat Diperpanjang 5 Hari Bisa Dorong Pelemahan Rupiah
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan menunjukan uang dolar AS di Jakarta, Selasa (16/3/2021). Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 7 poin atau 0,05 persen ke level Rp14.410 per dolar AS. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra mengatakan, perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat bisa memicu kekhawatiran pasar dan mendorong pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Bahkan dia memperkirakan nilai tukar mata uang Garuda bisa anjlok hingga melebihi level psikologis Rp 14.500 per dolar AS.

"Mungkin rupiah bisa bergerak di kisaran Rp 14.450 hingga Rp 14.600 pekan ini. Namun, bila beberapa hari sesudahnya terlihat penurunan kasus, kekhawatiran akan mereda," ujarnya melalui pesan singkat kepada Tribunnews.com, Selasa (20/7/2021).

Ariston menjelaskan optimisme mulai adanya penguatan tergantung dari hasil PPKM darurat 5 hari ke depan.

"Saya malah was-was PPKM bisa diperpanjang lagi kalau hasilnya tidak sesuai harapan," katanya.

Sedangkan kalau PPKM memang dilaksanakan secara ketat dan prokes dijalankan oleh masyarakat dengan baik, hasilnya tentu dinilai akan bagus.

Ariston menambahkan, vaksinasi yang gencar juga membantu menurunkan penularan dan mencegah rumah sakit penuh karena vaksin mencegah pemburukan kondisi orang yang terkena virus.

"Sudah ada bukti dari beberapa negara bahwa penerapan pembatasan yang ketat akan mengurangi penularan," pungkasnya.

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas