Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Menggagas Hasrat Lewat Impian, Mengintip Kisah 2 Pengrajin Merajut Mimpi di Kala Pandemi

Kisah Roy Wibisono Anang Prabowo dan Selly Sagita menggambarkan bagaimana tak mudah untuk mewujudkan mimpi kita

Menggagas Hasrat Lewat Impian, Mengintip Kisah 2 Pengrajin Merajut Mimpi di Kala Pandemi

TRIBUNNEWS.COM – Setiap orang pasti memiliki mimpi. Tapi kenyataannya, hanya segelintir orang yang mau berjuang sekuat tenaga agar mimpi yang mereka punya menjadi kenyataan. Dua di antaranya adalah Roy Wibisono Anang Prabowo dan Selly Sagita.

Jika orang biasa hanya memanfaatkan 24 jam waktu yang mereka miliki dengan rutinitas biasa. Agar bisa sukses dan mewujudkan mimpi mereka menjadi kenyataan, keduanya memaksimalkan 24 jam waktu yang mereka miliki dengan meracik hasrat, tekad, dan mimpi yang mereka punya menjadi sebuah action agar harapan mereka menjadi kenyataan.

Roy, misalnya, melalui usahanya Naruna Ceramic, Roy memiliki mimpi keramik buatannya mampu menjadi brand kebanggan Indonesia dan eksis di dunia internasional. Layaknya orang Jepang yang bangga dengan keramik ‘Noritake,’ dan orang Inggris yang bangga dengan produk keramik mereka ‘Royal Doulton.’

Roy sadar perlu kerja keras dan strategis khusus demi mewujudkan keinginannya. Tanpa dua hal itu, mimpinya hanya akan menjadi wacana yang tidak akan pernah terwujud.

“Naruna artinya leader. Naruna Ceramic artinya leader keramik. Kami ingin Naruna menjadi brand kebanggan Indonesia yang terkenal di dunia,” kata Roy.

Roy bercerita, untuk mewujudkan mimpi itu, langkah awal yang ia tempuh adalah mendirikan Naruna Ceramic pada 2 tahun lalu.

Di tahun pertama, bisa dikatakan semua serba terbatas. Hanya bermodalkan uang tidak lebih Rp 10 juta dan mempekerjakan 3 karyawan, ia mulai menggerakan roda bisnis Naruna.

Roy Wibisono Anang Prabowo Petualangan BRIlian

Masih tergambar jelas dalam benaknya, modal tersebut dimanfaatkan untuk membeli bahan baku dan peralatan pembuatan kerajinan tanah liat.

Selanjutnya, Roy “memutar otak” agar tetap bisa produksi meskipun modalnya terbatas. Akhirnya ia memutuskan menggunakan sistem pre order dari setiap keramik yang dibuatnya.

“Awalnya kami buat satu keramik contoh dulu, lalu di foto menarik, dikasih caption menarik, dan di posting di internet,” ujar Roy.

Mimpinya untuk membangun brand keramik ternama di Indonesia pun terus dipertahankan. Untuk mewujudkannya, Roy memperkuat divisi-divisi yang ada di Naruna. Mulai dari marketing, branding, riset, desain, hingga produksi.

“Kita didukung dengan tim digital marketing dan tim produksi yang kuat. Kami juga selalu riset bahan baku terbaik di Indonesia. Untuk desain, selalu update desain terkini dan selalu mengikuti perkembangan brand terkemuka yang ada di dunia,” kata Roy.

Roy juga selalu terbuka untuk menerima masukan atau kritik dari orang lain. Sebab menurutnya, kritik dan masukan adalah dua hal penting dapat membuat kerajinan tanah liat miliknya menjadi lebih sempurna.

Tidak hanya itu, penguatan dalam leadership juga ia lakukan. Roy percaya dengan leadership yang baik maka dapat menentukan arah usaha, dan membawa efek positif pada bisnis yang sedang dibangun.  

Upaya penguatan berbagai divisi tersebut ternyata membawa efek positif bagi Naruna. Contohnya di masa pandemi seperti saat ini, Roy mengakui Naruna masih bisa mendapatkan untung, bahkan mampu mempekerjakan 73 karyawan.

“Selama pandemi omzet kami naik 19x lipat. Karena kami terus memperkuat marketing dan branding, produksi. Dan kami tidak lelah untuk selalu berinovasi untuk menjadikan Naruna sebagai brand terkemuka di Indonesia bahkan dunia,” kata Roy.

Di akhir kata, Roy membagikan pemikirannya terkait dunia keramik Indonesia dan bagaimana mewujudkan mimpi menjadi pengusaha keramik yang sukses.

“Bikin keramik itu sulit. Makanya tidak banyak di Indonesia pengrajin keramik. Bikinnya sulit dan banyak pengrajin yang jualnya murah. Menurutku mereka harus keluar, tidak membuat hal yang sudah ada, dan harus membuat produk yang kekinian supaya branding-nya bagus sehingga harga jualnya bagus, dan berakhir dengan kesejahteraan bagus, serta berdampak pada pertumbuhan keramik di Indonesia yang bagus pula,” tutup Roy.

Selly Sagita Petualangan BRIlian

Bukan hanya bagi mereka yang baru merintis saja, usaha merajut mimpi menjadi nyata ternyata juga dialami mereka yang telah berpengalaman. Misalnya saja seperti yang dilakukan founder dan owner Borobudur Silver Selly Sagita.

Mendirikan usaha yang dimilikinya pada tahun 1989 lalu, ia sepakat dibandingkan kuantitas, kualitas menjadi hal yang penting untuk dijaga bagi setiap pelaku usaha

 “Dalam membuat produk (kerajinan perak) saya harus betul-betul mengedepankan kualitas. Kualitas harus bagus tidak boleh asal-asalan,” kata Selly.

Wanita yang telah membangun brand Borobudur Silver selama 32 tahun ini juga bercerita, setiap produk yang dibuatnya selalu dibalut dengan nilai-nilai budaya. Bahkan, dalam proses pembuatannya, ia masih mempertahankan cara-cara tradisional agar mendapatkan detail hasil yang pas.

Dengan cara tersebut, ia tidak hanya mendapatkan konsumen dari dalam negeri, namun hingga mancanegara.

Kunci bertahan di saat pandemi

Meskipun sudah lama berkecimpung dalam dunia bisnis, Selly memiliki mimpi agar dapat mempertahankan kerajinan perak Borobudur Silver supaya mampu bertahan di berbagai situasi termasuk di masa pandemi Covid-19.

Selly mengakui, pandemi Covid-19 yang melanda berbagai negara telah memberikan dampak negatif bagi bisnisnya.

“Pandemi ini kan, semua orang hilang. Buyer-buyer saya di luar negeri mungkin sedang pusing secara bisnis mereka terpuruk,” kata Selly.

Meskipun begitu, tekatnya untuk membawa kerajinan perak agar mampu bertahan di berbagai situasi tidak surut. Ia melakukan berbagai hal agar mampu bertahan di masa seperti saat ini.

“Untuk bisa survive lakukan pivot point activities. Contohnya, saya pengusaha perhiasan terpaksa beralih bisnis menjadi pengusaha angkringan,” katanya.

Lewat usaha angkringannya, lapak-lapak yang tersedia ia sewakan untuk diisi para pelaku UMKM kuliner.

Menurut Selly, usahanya tersebut menghadirkan dua sisi positif. Dari sisi pelaku UMKM kuliner yang menyewa, mereka bisa memiliki lapak untuk berdagang.  Sedangkan di sisi lain, bisa membantu Selly untuk survive di masa sekarang ini.

“Rajin membantu secara tidak langsung kita juga terbantu. Dengan filosofi hidup ini maka semua indah pada waktunya,” tutup Selly.

Tidak hanya menghadirkan kisah di atas, Selly dan Roy juga berbagai cerita inspiratif lainnya tentang cara mereka mewujudkan mimpi mereka. Nah, biar nggak makin penasaran, kamu bisa saksikan secara lengkap Petualangan Brilian The Series Episode 2 hanya di Kompas TV dan channel YouTube Bank BRI.

Lewat series ini, terlihat peran BRI melalui para mantri BRI yang selalu setia mendamping, membantu, menolong, dan yang terpenting memberikan modal usaha kepada para pelaku usaha mikro dan UMKM, agar lebih berdaya dalam bisnis mereka dan memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Petualangan Brilian The Series merupakan program yang mengangkat kisah-kisah inspiratif dari para penggiat UMKM, yakni para pelaku pemberdayaan usaha mikro dan ekonomi berbasis kerakyatan di seluruh negeri, yang menjadi garda terdepan dalam menopang perekonomian bangsa.

Admin: Sponsored Content
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas