Tribun Bisnis

Dilematis, Sri Mulyani: Transisi ke Energi Ramah Lingkungan Berisiko Mengancam Tenaga Kerja

Indonesia kini menghadapi tantangan baru keharusan memberlakukan transisi energi dari penggunaan energi fosil ke energi ramah lingkungan. 

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Choirul Arifin
Dilematis, Sri Mulyani: Transisi ke Energi Ramah Lingkungan Berisiko Mengancam Tenaga Kerja
TRIBUNNEWS/Jeprima
Petani cabai di Bojongkoneng, Kecamatan Babakan Madang, Jawa Barat, menghadapi beragam tantangan. Selain hama, juga cuaca buruk. Foto diambil Rabu (15/9/2021). (Tribunnews/Jeprima) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Upaya pemulihan ekonomi nasional saat ini menghadapi  tantangan baru keharusan memberlakukan transisi energi dari penggunaan energi fosil ke energi ramah lingkungan. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan, transformasi menuju emisi karbon lebih rendah menimbulkan risiko lain, terutama bagi tenaga kerja dalam jangka pendek dan jangka menengah. 

“Indonesia saat ini juga sedang mempersiapkan lapangan kerja menuju transisi hijau, akan diselaraskan dengan kebijakan dan program pengembangan sumber daya manusia. Termasuk, kebijakan dan program kita menuju visi Indonesia 2045," ujarnya dalam diskusi bertajuk "Embedding Climate Change into Asia's Recovery Strategy", Kamis (30/9/2021).

Dia mengatakan, Indonesia telah menggunakan semua perangkat fiskal untuk dapat mengintegrasikan pemulihan ekonomi dengan upaya mengatasi perubahan iklim yakni melalui penerbitan Sustainable Development Goals (SDGs) bond.

Baca juga: Fakta Ratusan Burung Pipit Mati Mendadak di Balai Kota Cirebon, Ini Dugaan Penyebabnya

“Tujuan dari obligasi ini adalah untuk membiayai program SDG termasuk perubahan iklim. Ini adalah penerbitan SDGs bond konvensional pertama di Asia dan ini juga menunjukkan kepemimpinan kami serta komitmen yang kuat terhadap keuangan berkelanjutan dan juga target SDG," kata Sri Mulyani. 

Baca juga: Sri Mulyani Beber Strategi Fiskal Indonesia untuk Kendalikan Perubahan Iklim

Menurutnya, isu terkait perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan tidak dapat diselesaikan oleh negara secara individual. 

Baca juga: Cegah Bencana, Ini Pentingnya Peran Perempuan Peduli Perubahan Iklim

Untuk itu, Indonesia secara aktif mendorong komitmen dan tindakan bersama secara global dalam berbagai forum internasional, termasuk pertemuan G20, di mana Indonesia menjadi presidensi pada 2022. 

Baca juga: Presiden Tanam Mangrove untuk Pemulihan Lingkungan dan Mitigasi Iklim

“Di G20, kami memiliki kelompok kerja kerja baru. Bertujuan untuk merumuskan tindakan nyata, yaitu melalui pengembangan lingkungan yang memungkinkan memobilisasi pembiayaan Internasional," pungkas Sri Mulyani.

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas