Tribun Bisnis

Krisis Energi Singapura Semakin Genting, Tiga Pengecer Listrik Gulung Tikar, Otoritas Bertindak

Krisis energi di Singapura semakin menjadi, akibatnya pemerintah setempat pun akan mengambil tindakan.

Editor: Hendra Gunawan
Krisis Energi Singapura Semakin Genting, Tiga Pengecer Listrik Gulung Tikar, Otoritas Bertindak
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNNEWS.COM -- Krisis energi di Singapura semakin menjadi, akibatnya pemerintah setempat pun akan mengambil tindakan.

Regulator energi negara tetangga itu bakal meningkatkan cadangan gas dan menginvertensi pasar listrik grosir sebagai dampak lonjakan harga bahan bakar.

Financial Review memberitakan, Selasa lalu pengecer listrik Best Electricity gulung tikar karena "kondisi volatil yang tidak terduga".

Karena kondisi semakin 'genting' pada hari itu juga Otoritas Pasar Energi (EMA) Singapura membatasi penjualan kelebihan gas oleh perusahaan pembangkit listrik (Gencos) karena berupaya meningkatkan keamanan energi di negara-kota, di mana 95 persen listrik dihasilkan dari gas alam impor.

Baca juga: Krisis Energi di Singapura Kian Menjadi, Penyedia Listrik Bertumbangan

Permintaan listrik Singapura melambung, hal ini dibarengi dengan meroketnya biaya produksi tenaga listrik.

Selain Best Electricity, dua pengecer lain telah "mengibarkan bendera putih" minggu lalu, termasuk iSwitch, pemain independen terbesar dan pelanggan yayasan potensial untuk proyek Sun Cable Australia.

Konsumen Singapura telah mendapat manfaat dari tagihan listrik yang lebih murah dan kontrak harga tetap sejak pasar dibuka pada tahun 2018, tetapi dalam beberapa bulan terakhir pengecer telah berjuang untuk menyerap kenaikan tarif di pasar grosir.

Menurut EMA, volatilitas ini adalah hasil dari rekor harga gas alam cair, permintaan listrik yang lebih tinggi dari biasanya, dan masalah yang mempengaruhi pasokan gas alam yang disalurkan dari Indonesia.

Baca juga: Dihantam Krisis Listrik, Ekonomi China Kuartal III Tumbuh di Level Terendah dalam Setahun

“Masalah produksi hulu di lapangan gas West Natuna Indonesia telah mengakibatkan penurunan produksi, yang kemungkinan akan berlangsung hingga akhir 2021,” catat EMA.

Tekanan gas dari Sumsel menurun karena permintaan yang lebih tinggi dari pengguna gas baik di hulu maupun di Singapura.

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas