Tribun Bisnis

Sri Lanka Bangkrut

Sri Lanka Minta Bantuan China Untuk Meningkatkan Perdagangan, Investasi, dan Pariwisata

Sri Lanka meminta bantuan China untuk membantu pertumbuhan dalam bidang perdagangan, investasi dan pariwisata negaranya secara berkelanjutan.

Penulis: Mikael Dafit Adi Prasetyo
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Sri Lanka Minta Bantuan China Untuk Meningkatkan Perdagangan, Investasi, dan Pariwisata
Kolase Tribunnews.com/Wikipedia
Kolase: Perdana Menteri Sri Lanka Dinesh Gunawardena dan pemimpin China Xi Jinping 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Mikael Dafit Adi Prasetyo

TRIBUNNEWS.COM, BEIJING – Sri Lanka meminta bantuan China untuk membantu pertumbuhan dalam bidang perdagangan, investasi dan pariwisata negaranya secara berkelanjutan.

Dilansir dari Reuters, Selasa (26/7/2022) Sri Lanka telah dilanda krisis ekonomi terburuk sejak kemerdekaan tahun 1948 setelah kehabisan cadangan devisa, kekurangan bahan bakar, makanan dan obat-obatan.

Hal ini memicu kemarahan pengunjuk rasa dan akhirnya meminta mantan presiden Gotabaya Rajapaksa mundur dari jabatannya.

Baca juga: Krisis Sri Lanka: RS Hampir Tak Bisa Beroperasi, Pasien Diabetes Dipulangkan hingga Harus Jalan Kaki

Penekanan Duta Besar Palitha Kohona pada China sebagai kunci pemulihan ekonomi Sri Lanka, telah mencerminkan status Beijing sebagai salah satu dari dua kreditur asing terbesar Sri Lanka, bersama dengan Jepang.

China juga memegang sekitar 10 persen dari utang luar negeri Sri Lanka.

Dalam sebuah wawancara dengan Reuters di kedutaan Sri Lanka di Beijing, Kohona mengatakan bahwa Kolombo ingin meminta perusahaan China untuk membeli lebih banyak teh hitam Sri Lanka, safir (batu permata), rempah-rempah dan pakaian serta membuat aturan impor China lebih transparan dan lebih mudah dinavigasi.

Dia menambahkan, Beijing juga dapat membantu dengan menuangkan investasi lebih lanjut ke proyek pelabuhan besar yang didukung China di Kolombo dan Hambantota. Namun, rencana investasi besar China belum terwujud karena pandemi COVID-19.

Kohona lalu menyampaikan bahwa Presiden baru Sri Lanka Ranil Wickremesinghe memiliki rencana mengunjungi China untuk membahas kerja sama dalam berbagai hal termasuk perdagangan, investasi dan pariwisata.

Kohona juga mengharapkan tidak ada perubahan mendasar dalam kebijakan pemerintah baru terhadap China.

Sementara itu, perwakilan dari Sri Lanka telah melakukan pembicaraan di Tiongkok untuk paket bantuan senilai 4 miliar dolar AS, yang terdiri dari pinjaman sebesar 1 miliar dolar AS untuk membayar utang Tiongkok yang jatuh tempo tahun ini.

Baca juga: Kelompok Hak Asasi Manusia Kecam Tindakan Kekerasan Militer Sri Lanka Terhadap Pengunjuk Rasa  

Selain itu, perwakilan dari Sri Lanka juga meminta batas kredit sebesar 1,5 miliar dolar AS untuk membayar impor China.

Kohona mengatakan bahwa impor ini merupakan input yang dibutuhkan oleh industri garmen yang menguntungkan negaranya, seperti kancing dan ritsleting.

Sri Lanka juga berharap dapat membujuk China untuk mengaktifkan pertukaran mata uang bilateral senilai 1,5 miliar dolar AS.

Kohona lebih lanjut mengatakan bahwa diskusi tentang bantuan keuangan dengan China masih berlangsung, tetapi tidak ada tanggal untuk pertemuan berikutnya yang telah ditetapkan.

Baca juga: Human Rights Watch Desak Sri Lanka Tak Gunakan Kekerasan terhadap Pengunjuk Rasa

Di sisi lain, Kementerian luar negeri China mengatakan pada bulan ini bahwa Beijing bersedia bekerja dengan negara lain dan lembaga keuangan internasional untuk "memainkan peran positif" demi membantu Sri Lanka.

Selain bantuan keuangan, Sri Lanka juga berharap China dapat membantunya membeli bahan bakar, pupuk, dan pasokan lain yang sangat dibutuhkan.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas