Tribun Bisnis

Inflasi Jerman Capai Dua Digit untuk Pertama Kalinya Sejak Perang Dunia II

Ini adalah tingkat inflasi tertinggi yang pernah dilihat Jerman sejak tahun 1951, atau kira-kira sekitar akhir Perang Dunia II.

Penulis: Nur Febriana Trinugraheni
Editor: Muhammad Zulfikar
zoom-in Inflasi Jerman Capai Dua Digit untuk Pertama Kalinya Sejak Perang Dunia II
Alpha News
Ilustrasi inflasi. Untuk pertama kalinya sejak akhir Perang Dunia II, inflasi Jerman di bulan September mencapai dua digit yang dipicu oleh kenaikan harga energi di tengah perang Ukraina-Rusia 

Laporan Wartawan Tribunnews, Nur Febriana Trinugraheni
 
TRIBUNNEWS.COM, BERLIN - Untuk pertama kalinya sejak akhir Perang Dunia II, inflasi Jerman di bulan September mencapai dua digit yang dipicu oleh kenaikan harga energi di tengah perang Ukraina-Rusia

Selain krisis energi yang terjadi di Eropa, paket stimulus dalam jumlah besar yang digelontorkan Jerman guna menopang perekonomian di tengah pandemi Covid-19 juga berkontribusi terhadap tingginya inflasi.

Jerman memberlakukan sejumlah besar paket stimulus untuk menangkis kejatuhan ekonomi dari penutupan dan penguncian atau lockdown yang diberlakukan pemerintah.

Baca juga: Inflasi Jerman Tembus 10 Persen, Analis: ke Depan Masih Bisa Lebih Buruk Lagi 

Data CPI resmi Jerman menunjukkan inflasi negara itu pada bulan September mencapai 10,9 persen, naik dari 8,8 persen di bulan Agustus.

Ini adalah tingkat inflasi tertinggi yang pernah dilihat Jerman sejak tahun 1951, atau kira-kira sekitar akhir Perang Dunia II.

Data menunjukkan harga energi Jerman naik 44 persen di bulan September, dibanding pada bulan yang sama di tahun lalu.

“Harga energi dan pangan yang tinggi, yang kemungkinan akan meningkat lebih lanjut di tahun mendatang, menyebabkan kerugian yang signifikan dalam daya beli,” kata kepala penelitian ekonomi di Institut Penelitian Ekonomi Leibniz, Torsten Schmidt, yang dikutip dari Bitcoin News.

Berkurangnya pasokan gas dari Rusia telah mendorong harga energi dan juga inflasi ke rekor tertinggi yang tidak pernah dilihat dalam beberapa dekade sebelumnya.

Inflasi tinggi telah melemahkan daya beli konsumen, sehingga menambah kemungkinan ekonomi sedang menuju ke jalur resesi.

Dengan memperhatikan kenaikan inflasi yang tidak berhenti, Alexander Krueger dari bank swasta Hauck Aufhaeuser Lampe mengatakan Bank Sentral Eropa (ECB) tidak punya pilihan "selain mengubah suku bunga dengan cepat dan penuh semangat."

Baca juga: Presiden Jokowi Usai Pengarahan Pengendalian Inflasi: Apa Kabanya Padang? Apa Ada Rendang?

Dikutip dari Reuters, ECB telah menaikkan suku bunga dengan gabungan 125 basis poin selama dua pertemuan terakhir, dan menjanjikan kenaikan lebih lanjut untuk mengatasi kenaikan harga makanan dan energi.

Konsumen di Jerman mulai mengubah perilaku belanja mereka karena lonjakan biaya energi.

Menurut survei yang dikeluarkan asosiasi perdagangan HDE pada Kamis lalu, 46 persen penduduk Jerman yang disurvei mengatakan telah berhenti membeli produk tertentu dan 60 persen mengatakan mereka semakin memanfaatkan penawaran potongan harga atau diskon saat membeli bahan makanan.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas