Tribun Bisnis

Harga Minyak Akan Mengalami Kenaikan Usai OPEC+ Sepakati Pemangkasan Produksi

OPEC+ melakukan pemotongan produksi 2 juta barel per hari (bph), setara dengan 2% dari pasokan global.

Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Harga Minyak Akan Mengalami Kenaikan Usai OPEC+ Sepakati Pemangkasan Produksi
REUTERS
Ilustrasi minyak mentah. Harga minyak mentah berpeluang alami kenaikan setelah OPEC+ memutuskan memangkas produksi. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga minyak mentah di pasar akan mengalami kenaikan, setelah OPEC+ menyepakati pengurangan produksi minyak pada Rabu (5/10/2022).

Keputusan tersebut dinilai negara Barat sebagai langkah yang picik dan mengejutkan, di tengah terbatasanya pasokan minyak.

Namun, pihak OPEC+ menyampaikan hal ini diambil menyikapi kondisi ekonomi global yang tertekan.

Melansir Reuters, Pemimpin de-facto OPEC Arab Saudi mengatakan, pemotongan produksi 2 juta barel per hari (bph) - setara dengan 2 persen dari pasokan global - diperlukan untuk menanggapi kenaikan suku bunga di Barat dan ekonomi global yang lebih lemah.

Baca juga: Harga Minyak Terkoreksi di Tengah Penguatan Dolar AS

Negara kerajaan itu menolak kritik bahwa mereka berkolusi dengan Rusia, yang termasuk dalam kelompok OPEC+, untuk mendorong harga minyak menjadi lebih tinggi.

Arab Saudi juga mengatakan, pernyataan Barat sering didorong oleh "arogansi kekayaan" ketika mengkritik kelompok tersebut.

Menanggapi langkah OPEC+, Gedung Putih mengatakan Presiden Joe Biden akan terus menilai apakah pihaknya akan merilis stok minyak strategis lebih lanjut untuk menurunkan harga minyak.

"Presiden kecewa dengan keputusan picik OPEC+ untuk memangkas kuota produksi sementara ekonomi global menghadapi dampak negatif lanjutan dari invasi (Presiden Rusia Vladimir) Putin ke Ukraina," kata Gedung Putih.

Asal tahu saja, saat ini, Biden menghadapi peringkat persetujuan yang rendah menjelang pemilihan paruh waktu karena inflasi yang melonjak. Biden telah meminta Arab Saudi, sekutu jangka panjang AS, untuk membantu menurunkan harga minyak.

Para pejabat AS mengatakan sebagian alasan Washington menginginkan harga minyak yang lebih rendah adalah untuk memangkas pendapatan minyak Moskow.

Biden melakukan perjalanan ke Riyadh tahun ini tetapi gagal mendapatkan komitmen kerja sama yang kuat tentang energi.

Hubungan semakin tegang karena Arab Saudi tidak mengutuk tindakan Moskow di Ukraina.

Pengurangan pasokan minyak yang diputuskan di Wina pada hari Rabu dapat memacu pemulihan harga minyak yang telah turun menjadi sekitar US$ 90 dari sebelumnya US$ 120 tiga bulan lalu di tengah kekhawatiran resesi ekonomi global, kenaikan suku bunga AS, dan penguatan dolar AS.

Menteri Energi Saudi Abdulaziz bin Salman mengatakan OPEC+ perlu proaktif karena bank sentral di seluruh dunia bergerak "terlambat" untuk mengatasi inflasi yang melonjak dengan suku bunga yang lebih tinggi.

Pemotongan produksi hari Rabu sebesar 2 juta barel per hari didasarkan pada angka-angka dasar yang ada. Ini berarti pemotongan tersebut tidak akan terlalu dalam karena produksi minyak OPEC+ turun sekitar 3,6 juta barel per hari dari target produksinya pada Agustus.

Kurangnya produksi terjadi karena sanksi Barat terhadap negara-negara seperti Rusia, Venezuela dan Iran dan masalah produksi dengan produsen seperti Nigeria dan Angola. Pangeran Abdulaziz mengatakan pemotongan sebenarnya adalah 1,0-1,1 juta barel per hari.

Tak lama setelah pengumuman OPEC+, harga acuan minyak mentah Brent naik di atas US$ 93 per barel pada hari Rabu. Pertemuan OPEC+ berikutnya akan berlangsung pada 4 Desember 2022. (Barratut Taqiyyah Rafie/Kontan)

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas