Beras di Malut Kondisinya Jelek, Bapanas: Namanya Penyimpanan Pasti Ada Turun Mutu
Arief Prasetyo Adi memandang kualitas beras yang jelek ditemukan di Maluku Utara (Malut) sebagai sesuatu yang wajar.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Sanusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi memandang kualitas beras yang jelek ditemukan di Maluku Utara (Malut) sebagai sesuatu yang wajar.
Menurut dia, namanya beras disimpan di dalam sebuah gudang, pasti akan ada penurunan mutu.
Sebagaimana diketahui, akun Instagram DPR RI mengunggah video yang menunjukkan Titiek bersama tim Komisi IV DPR RI menemukan beras tak layak konsumsi di Gudang Perum Bulog Cabang Ternate, Maluku Utara.
Tim Komisi IV menemukan beras tak layak itu sekitar 1.200 ton beras dan telah tersimpan sejak Mei 2024.
Titiek kemudian mengambil beras tersebut dan mengatakan bahwa warnanya sudah abu-abu. Ia mempertanyakan mengapa beras tersebut tidak disalurkan.
Ketika menggenggam beras itu, Titiek menilai beras dengan kualitas jelek tersebut seharusnya tidak dijual, apalagi disalurkan sebagai bantuan pangan. Dia bilang, lebih baik berasnya dijadikan sebagai pakan ternak.
Baca juga: Titiek Soeharto Temukan Beras Tak Layak Konsumsi, Dirut Bulog: Sedang Diproses Ulang
"Namanya juga penyimpanan, tentunya pasti ada juga yang turun mutu karena juga ada beberapa yang memang sudah dari bawaan 2024," kata Arief ketika ditemui di kantor Kemenko Pangan, Jakarta Pusat, Senin (29/9/2025).
Arief menegaskan bahwa Perum Bulog pasti terus memastikan beras yang disimpan tetap terjaga kualitasnya meski sudah tersimpan dari tahun lalu.
Ia menjelaskan adanya proses reprocessing atau proses ulang untuk beras yang sudah lama disimpan.
Kemudian, kata Arief, Bulog juga melakukan berbagai langkah agar beras tidak terserang kutu. Selain itu, dilakukan pula proses yang namanya fumigasi.
Fumigasi adalah metode pengendalian hama menggunakan pestisida berjenis fumigan dalam ruang kedap udara dengan dosis, waktu, suhu, dan tekanan tertentu.
Baca juga: Peneliti Celios Sebut Harga Beras di Papua Tengah Capai Rp 50 Ribu Lebih Per Kilogram
"Namanya kita nyetok 3,5 juta sampai 4 juta ton [beras], perawatan itu ya harus terus-menerus," ujar Arief.
Arief menyebut jika beras di Malut perlu dilihat apakah masih bisa diproses ulang atau tidak.
Jika tidak bisa dan kualitasnya tetap buruk, ia mengatakan beras itu tidak boleh diedarkan ke masyarakat.
"Tidak boleh ada barang yang tidak layak konsumsi yang diedarkan. Kualitas yang sampai ke masyarakat harus bagus," ucap Arief.
Baca tanpa iklan