Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun Bisnis
LIVE ●
tag populer

Koperasi Pangan Didorong Jadi Penggerak Rantai Pasok Sembako Nasional

Praktisi koperasi menyebut perlunya kolaborasi lintas sektor untuk membangun sistem distribusi pangan yang efisien

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Sanusi
zoom-in Koperasi Pangan Didorong Jadi Penggerak Rantai Pasok Sembako Nasional
Dok. pribadi
KOLABORASI LINTAS SEKTOR - Praktisi koperasi Jonathan Danang Wardhana menyebut perlunya kolaborasi lintas sektor untuk membangun sistem distribusi pangan yang efisien, transparan, dan berpihak pada masyarakat. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penguatan koperasi sebagai penggerak utama rantai pasok pangan nasional, khususnya sembako seperti gula dan beras, dinilai krusial untuk menghadapi tantangan distribusi yang kerap diwarnai persoalan modal, ketimpangan harga, dan keterbatasan akses.

Praktisi koperasi Jonathan Danang Wardhana menyebut perlunya kolaborasi lintas sektor untuk membangun sistem distribusi pangan yang efisien, transparan, dan berpihak pada masyarakat.

Baca juga: Perluas Akses Listrik, Koperasi Desa Merah Putih Didorong Dapat Mengelola Energi Bersih

“Penguatan koperasi bukan hanya soal distribusi barang, tetapi juga transformasi kelembagaan koperasi menjadi pilar ketahanan pangan nasional,” ujar Jonathan, Ketua Koperasi Kana, dalam keterangan tertulis, Senin (29/9/2025).

Menurutnya, koperasi harus beralih dari model simpan pinjam tradisional menjadi motor distribusi pangan berbasis teknologi, pendanaan inklusif, dan tata kelola yang akuntabel.

Untuk menjawab tantangan klasik koperasi desa, Jonathan menginisiasi Program Koperasi Manis, sebuah skema kemitraan koperasi desa (Kopdes/Kel) yang fokus pada distribusi sembako.

Baca juga: Perluas Akses Listrik, Koperasi Desa Merah Putih Didorong Dapat Mengelola Energi Bersih

Melalui program ini, setiap koperasi peserta memperoleh:

- Pendanaan operasional sebesar Rp 2 juta per bulan

Rekomendasi Untuk Anda

- Fasilitas sistem konsinyasi hingga Rp 200 juta per bulan

- Akses barang tanpa pembayaran di muka

- Platform digital untuk memantau arus barang dan transaksi secara real time

“Model ini membuat koperasi mampu menjaga suplai tanpa harus menahan uang tunai dalam jumlah besar, sekaligus mendorong harga yang lebih kompetitif,” jelas Jonathan.

Sistem digital yang diterapkan juga bertujuan menekan risiko kebocoran distribusi dan meminimalkan praktik spekulasi harga yang kerap mengganggu stabilitas pasar pangan.

Dukungan dari Pemerintah dan Pelaku Koperasi

Program Koperasi Manis mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Barat, Endrizal, menilai model ini layak direplikasi di daerah lain.

“Ketahanan pangan membutuhkan sistem distribusi yang jelas, terpantau, dan berpihak pada petani serta konsumen. Inisiatif Koperasi Manis adalah contoh konkret bagaimana koperasi dapat menjadi simpul utama dalam rantai pasok,” ujarnya.

Baca juga: Wapres Gibran Datangi Panen Raya Jagung di Sumsel, Singgung Soal Koperasi Desa Merah Putih

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Atas