Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Diyakini Menguntungkan Negara

Menurut Eddy, kondisi Indonesia saat ini telah dikategorikan darurat sampah dengan jumlah mencapai 56 juta ton per tahunnya. 

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi Diyakini Menguntungkan Negara
pixabay/Pexels
PENGOLAHAN SAMPAH JADI ENERGI - Indonesia saat ini telah dikategorikan darurat sampah dengan jumlah mencapai 56 juta ton per tahunnya. Proyek WTE oleh Danantara dinilai sangat penting dan tepat waktunya. 

Ringkasan Berita:
  • Proyek WTE oleh Danantara dinilai sangat penting dan tepat waktunya.
  • Indonesia saat ini telah dikategorikan darurat sampah dengan jumlah mencapai 56 juta ton per tahunnya.
  • 60 persen sampah dibuang begitu saja di tempat pembuangan akhir (TPA).

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menilai, program pengolahan sampah menjadi energi (waste to energy/WTE) oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memang sangat penting dan tepat waktunya.

WTE merupakan teknologi pengolahan sampah menjadi energi, seperti listrik, panas, atau bahan bakar (biogas, biodiesel, atau bahan bakar cair).

Baca juga: Pemprov DKI Genjot Aktivasi Bank Sampah, RW 08 Lenteng Agung Jadi Contoh Sukses

Proses ini bertujuan mengurangi volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menciptakan sumber energi baru dari sampah yang tidak dapat didaur ulang.  

Menurut Eddy, kondisi Indonesia saat ini telah dikategorikan darurat sampah dengan jumlah mencapai 56 juta ton per tahunnya. 

Dari jumlah tersebut, hanya 40 persen yang mampu didaur ulang lagi sedangkan 60 persen dibuang begitu saja di tempat pembuangan akhir (TPA).

Rekomendasi Untuk Anda

“Sebelumnya, program waste to energy sudah berjalan 12 tahun dengan wilayah proyek di Surabaya dan Solo, namun sulit berkembang karena dua faktor yaitu prosesnya rumit serta nilai keekonomian yang sulit,” ujar Eddy, Selasa (25/11/2025).

Saat ini, lanjut Eddy, dengan pengerjaan program waste to energy oleh BPI Danantara justru menunjukkan tingginya peminat yang siap berkolaborasi. Bahkan secara keekonomian jadi lebih ringan dan menguntungkan.

Eddy menjelaskan, dalam proyek waste to energy ini posisi BPI Danantara perlu dilihat dari dua sisi yaitu pertama sebagai institusi penyeleksi pihak yang ingin bersinergi, lalu kedua adalah lembaga investor.

“Investor berarti BPI Danantara punya dana untuk mengelola proyek sampah jadi energi dan dihitung punya keuntungan sebab hasilnya kembali lagi ke negara, jadi punya modal jangka panjang. Dengan begitu secara permodalan tidak masalah,” ucap Eddy.

Eddy menuturkan, program pengolahan sampah jadi energi memiliki prospek masa depan yang bagus. Keuntungannya dapat dicermati dari skema 20 sen per kWh guna membantu keekonomian program tanpa membebani APBN.

“Ada juga keuntungan keekonomian dari hasil karbon kredit yang dapat makin membuat banyak investor tertarik ikut serta pada waste to energy. Oleh sebab itu harus dikelola sampah jadi energi terbarukan,” papar Eddy.

Baca juga: Kisah Kaya Hutan, UMKM Tembikar yang Tumbuh di Tengah Gunungan Sampah Bantar Gebang

Eddy mengingatkan agar BPI Danantara tetap memperhatikan beberapa hal dalam proyek waste to energy.

Eddy menyebut antara lain adanya penggunaan teknologi yang canggih dan modern.

“Selanjutnya menyangkut koordinasi dengan pemerintah daerah, misal ketersediaan lahan serta sampah.” Imbuh Eddy.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas