Amerika Percepat Pemanfaatan Panas Bumi, Indonesia Hadapi Tantangan Infrastruktur
Panas bumi berpeluang menjadi motor penggerak utama pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Amerika Serikat mempercepat pengembangan energi panas bumi sebagai sumber listrik bersih dan stabil, sementara Indonesia masih menghadapi kendala infrastruktur meski memiliki potensi besar.
- Pengamat energi menilai panas bumi bisa menjadi motor utama EBT nasional jika didukung kebijakan dan interkoneksi yang memadai.
- Tanpa percepatan nyata, potensi panas bumi Indonesia berisiko tertinggal di tengah transisi energi global.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemanfaatan energi panas bumi kian menjadi perhatian global seiring meningkatnya kebutuhan listrik bersih dan stabil, terutama di era kecerdasan buatan.
Amerika Serikat telah menjadikan panas bumi sebagai salah satu sumber energi strategis, sementara Indonesia masih menghadapi tantangan dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki.
Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menilai, panas bumi berpeluang menjadi motor penggerak utama pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.
Baca juga: Pengamat: Pemerintah Perlu Perkuat Eksplorasi untuk Maksimalkan Energi Panas Bumi
Potensi panas bumi nasional mencapai sekitar 23,74 gigawatt (GW), menjadikan Indonesia sebagai negara dengan cadangan panas bumi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat namun besarnya potensi tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi kapasitas listrik.
Fahmy menilai kendala utama terletak pada kesiapan infrastruktur, terutama akses menuju lokasi panas bumi yang umumnya berada di wilayah terpencil.
“Indonesia memiliki potensi panas bumi yang besar, tetapi belum dioptimalkan karena keterbatasan infrastruktur. Tanpa dukungan pemerintah, beban investasi akan terlalu berat jika sepenuhnya diserahkan kepada investor,” ujar Fahmy dalam keterangan tertulis dikutip, Kamis (19/12/2025).
Ia mengatakan, pembangunan interkoneksi antarpulau menjadi faktor penting untuk menyeimbangkan pasokan dan permintaan listrik berbasis EBT.
Ketersediaan infrastruktur dasar dinilai akan meningkatkan minat investor dalam mengembangkan proyek panas bumi.
Target Panas Bumi dalam RUPTL
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, pemerintah menargetkan penambahan kapasitas pembangkit EBT sebesar 42,5 GW dan penyimpanan energi sebesar 10,2 GW, dengan sekitar 70 persen berasal dari sumber energi terbarukan.
Untuk panas bumi, pemerintah mengalokasikan tambahan kapasitas sebesar 5,2 GW, dengan proyeksi kapasitas terpasang mencapai 1,1 GW pada 2029. Meski demikian, realisasi bauran EBT secara nasional masih tertinggal dari target.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan, bauran EBT sepanjang 2024 baru mencapai 14,68 persen, jauh di bawah target 19,5 persen.
Hingga Oktober 2025, porsi listrik berbasis energi bersih tercatat sekitar 14,4 persen dari total kapasitas nasional.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Tri Winarno mengatakan, mengakui target bauran EBT sebesar 15,9 persen pada 2025 sulit tercapai.
Baca tanpa iklan