CSIS: Konflik AS–Venezuela Masih Minim Dampak ke Indonesia
CSIS menyarankan diversifikasi pasar dan komoditas, mengurangi ketergantungan pada AS dan China, serta memperkuat energi terbarukan.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Peneliti Senior CSIS Deni Friawan menilai konflik AS–Venezuela sejauh ini belum berdampak signifikan ke pasar keuangan, energi, dan komoditas Indonesia.
- Pemerintah diingatkan tetap waspada, terutama jika konflik mengganggu pasokan minyak dunia dan memicu kenaikan harga energi.
- CSIS menyarankan diversifikasi pasar dan komoditas, mengurangi ketergantungan pada AS dan China, serta memperkuat energi terbarukan.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dampak konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela dinilai masih minim terhadap Indonesia.
Peneliti Senior Departemen Ekonomi Center for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menilai sejauh ini pengaruhnya belum terasa signifikan, baik di pasar keuangan, pasar saham dan obligasi, maupun pasar energi terkait harga komoditas.
"Dari terkini itu dampaknya enggak terlalu signifikan ya. Itu enggak terlalu banyak pengaruhnya," katanya di kantor CSIS, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (7/1/2026).
Baca juga: Ada Minyak USD 2 Miliar di Balik Serangan AS ke Venezuela: Jatah China Direbut Trump
Meski begitu, Deni mengingatkan pemerintah untuk mencermati perkembangan ke depan, terlebih Venezuela yang kini berada di bawah Presiden AS Donald Trump.
Menurut dia, situasi akan menjadi mengkhawatirkan apabila transisi politik di Venezuela tidak berjalan lancar, sedangkan konflik global lain seperti ketegangan di Iran turut memanas.
"Kalau konflik-konflik ini meletup dan membuat harga supply dari pasokan minyak dunia terhambat, itu yang baru dikhawatirkan," ujar Deni.
Untuk mengantisipasi potensi dampak lanjutan, Deni mengimbau pemerintah melakukan diversifikasi pasar.
Ia menilai Indonesia tidak seharusnya terlalu bergantung pada satu atau dua negara besar saja.
Diversifikasi tersebut, menurut Deni, bisa dilakukan dengan mengurangi ketergantungan pada China, mengingat konflik AS dan Venezuela juga berpotensi berdampak ke Negeri Tirai Bambu.
Sebagai konteks, Deni menjelaskan bahwa saat ini China dan Rusia tengah mendorong transaksi pembelian minyak dunia tanpa menggunakan dolar AS.
"Dulu kan ada kesepakatan antara Arab Saudi dengan Amerika bahwa beli minyak itu hanya boleh dengan dolar. Nah itu kan membuat dolar itu mata uang yang spesial karena ada demand-nya," kata Deni.
Namun, ketika Rusia dan China mulai meninggalkan dolar AS, posisi mata uang tersebut ikut terganggu.
Dalam konteks itu, AS berupaya mengamankan kepentingannya, termasuk terkait cadangan minyak Venezuela yang juga cocok dengan kilang minyak di Amerika.
Oleh karena itu, Deni menyarankan agar Indonesia mendiversifikasi pasar ekspor dan impornya, tidak hanya bergantung pada AS dan China.