Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Pengamat Beberkan Penyebab Nilai Tukar Rupiah Ambruk hingga Dekati Rp17.000 per Dolar AS

Situasi politik dan intervensi Bank Sentral AS menambah volatilitas, memengaruhi kurs rupiah dan harga impor di Indonesia.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin

Ringkasan Berita:
  • Rupiah Kamis (22/1/2026) dibuka Rp 16.929 per dolar AS, hampir menyentuh Rp 17.000 akibat tekanan geopolitik dan ekonomi global.
  • Ketegangan di Timur Tengah, Greenland, Rusia-Ukraina, Tiongkok-Taiwan, serta perang dagang AS–Eropa–Tiongkok memicu penguatan dolar.
  • Situasi politik dan intervensi Bank Sentral AS menambah volatilitas, memengaruhi kurs rupiah dan harga impor di Indonesia.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah hampir menyentuh Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) disebabkan dinamika ekonomi dan geopolitik global.

Rupiah di pasar spot, Kamis (22/1/2026) dibuka menguat 0,04 persen ke level Rp 16.929 per dolar AS.

Tercatat, rupiah pada penutupan perdagangan kemarin berada di posisi Rp 16.936 per dolar AS. 

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas yang merupakan Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkap sejumlah faktor eksternal yang menjadi penekan terbesar terhadap rupiah.

Baca juga: Usai Bank Indonesia Sampaikan Bakal Intervensi, Rupiah Pagi Ini Bergerak Menguat 

"Pertama adalah permasalahan geopolitik, kedua tentang perang dagang, ketiga perpolitikan di Amerika, keempat adalah tentang spekulasi Bank Sentral global,” katanya dalam wawancara eksklusif bersama Tribunnews, dikutip Kamis (22/1/2026).

Rekomendasi Untuk Anda

Ibrahim mengungkap kejadian geopolitik pertama adalah antara Amerika Serikat dan Venezuela saat Presiden AS Donald Trump menangkap Presiden Venezula Nicolas Maduro.

Trump menyebut penangkapan ini bukan invasi terhadap Venezula, tetapi Maduro ditangkap karena tersangka dalam kasus penggelapan narkoba.

Namun, Ibrahim memandang hal ini sejatinya merupakan keinginan Donald Trump menekan harga minyak dunia, sehingga mempengaruhi dinamika pasar energi global. Ia menginginkan harga minyak dunia itu adalah di level 50 dolar per barrel.

Kondisi geopolitik juga terjadi Timur Tengah, tepatnya di Iran, yang mengalami demonstrasi besar-besaran akibat tekanan ekonomi domestik.

"Di Iran terjadi demonstrasi besar-besaran akibat mata uang Iran ini mengalami pelemahan, inflasi cukup tinggi, dan dibonceng sama Amerika dan Israel, sehingga terjadi demonstrasi besar-besaran, dan hampir lebih dari 3.000 demonstran dan tentara polisi ini tewas," ujar Ibrahim.

Menurut Ibrahim, situasi tersebut menambah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah karena AS dan Israel ingin melemahkan rezim Iran.

Namun, Ibrahim menyebut pemerintahan dan militer Iran tetap solid, sehingga rencana untuk menggoyang Pemerintah Iran menjadi sulit. Ketegangan ini memicu rupiah yang mengalami kelemahan karena dolar menguat.

Konflik di Eropa

Selain di Timur Tengah, ketegangan muncul di Greenland, wilayah dalam Kerajaan Denmark, setelah Donald Trump mengancam akan mengambil alih.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas