Pengamat Beberkan Penyebab Nilai Tukar Rupiah Ambruk hingga Dekati Rp17.000 per Dolar AS
Situasi politik dan intervensi Bank Sentral AS menambah volatilitas, memengaruhi kurs rupiah dan harga impor di Indonesia.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Donald Trump ingin pada 2026 suku bunga semestinya kembali ke level awal, yakni 0–0,25 persen.
Setelah itu, Powell tengah menjalani penyelidikan pidana terkait proyek renovasi kantor The Fed senilai 2,5 miliar dolar AS.
Powell disebut memandang langkah itu bermuatan politis karena ada campur tangan pemerintah, sedangkan The Fed tidak ingin merespons kebijakan eksekutif.
Pada April mendatang disebut akan ada pergantian Ketua The Fed yang diperkirakan berasal dari Gedung Putih dan merupakan orang dari Donald Trump.
Berikutnya adalah soal perdang dagang. Donald Trump mengancam akan mengenai tarif impor hingga 25 persen pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris.
Tarif menjadi 25 persen akan berlaku pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai.
"Rupanya Uni Eropa melawan. Uni Eropa melawan nanti akan membalas melakukan perang dagang juga dengan Amerika," ujar Ibrahim.
Di sisi lain, Uni Eropa juga sedang melakukan perang dagang dengan Tiongkok. Mereka akan mengenakan tarif untuk barang-barang turunan dari 88,6 persen sampai 110,6 persen.
Ini juga akan membuat rupiah kemungkinan besar akan bermasalah lagi karena Tiongkok pasti akan melakukan penyerangan balik terhadap biaya impor tersebut yang begitu besar.
"Nah ini yang sebenarnya cukup menarik ya bagi gejolak secara eksternal yang membuat dolar menguat kemudian rupiah mengalami perlemahan," ucap Ibrahim.