Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Pengamat Beberkan Penyebab Nilai Tukar Rupiah Ambruk hingga Dekati Rp17.000 per Dolar AS

Situasi politik dan intervensi Bank Sentral AS menambah volatilitas, memengaruhi kurs rupiah dan harga impor di Indonesia.

Tayang:
Diperbarui:
Baca & Ambil Poin

Ibrahim memandang Trump menyoroti posisi strategis Greenland karena dekat dengan New York dan berpotensi digunakan Rusia maupun Tiongkok untuk membangun pangkalan militer.

"Kalau seandainya di Greenland ini, di situ Eropa bekerja sama dengan Rusia dan Tiongkok membangun satu pangkalan, itu sangat berbahaya," kata Ibrahim.

Kemudian, Ibrahim mengatakan perang Rusia–Ukraina masih menjadi faktor besar. Ia menilai konflik tersebut ini lebih lama karena keterlibatan NATO dan Amerika.

NATO dan Amerika Serikat ingin saling memamerkan senjata mereka masing-masing dan diujicobakan di perang antara Rusia dan Ukraina.

Ibrahim pun menyinggung rencana perjanjian gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina yang batal karena adanya serangan drone terhadap rumah dinas Presiden Rusia Vladimir Putin dari Ukraina.

"Akhirnya apa? Dengan kejadian itu gagal semua perjanjian yang diperakasai oleh Trump tersebut. Ini strategi politik," ujar Ibrahim.

Konflik di Asia

Rekomendasi Untuk Anda

Selain Eropa, kawasan Asia juga disebut Ibrahim masuk dalam daftar risiko geopolitik setelah muncul manuver militer Tiongkok–Taiwan.

Ia menyebut Taiwan membeli berbagai jenis drone dari Israel. Taiwan juga melakukan pembelian besar-besaran persenjataan dari Amerika. Kemudian Jepang pun juga siap mendukung Taiwan.

Konflik lainnya ada di Filipina, di mana Amerika membuat pangkalan militer di Laut Cina Selatan.

"Ketegangan secara geopolitik ini kalau kita kemas ini yang membuat indeks dolar menguat dan rupiah mengalami pelemahan. Itu dari geopolitik," kata Ibrahim.

Perang Dagang dan Politik AS

Selain geopolitik, Ibrahim menilai perang dagang AS–Uni Eropa–Tiongkok dan situasi politik di AS turut mengangkat dolar.

Situasi politik AS menjelang pemilu sela, yang kemungkinan besar dimenangkan oleh Partai Demokrat, ini membuat kursi presiden kembali goyah dan memanas.

Ketegangan juga terjadi di Bank Sentral Amerika setelah Donald Trump meminta Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, menurunkan suku bunga.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas