Rupiah Melemah ke Rp 16.776 per Dolar AS Pada Rabu 4 Februari
Pada perdagangan Rabu (4/2/2026) sore, rupiah ditutup melemah ke Rp 16.776 per dolar Amerika Serikat (AS) dari Rp 16.754.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Sanusi
Menurut Bank Dunia, Indonesia sulit keluar dari middle income trap jika tidak melakukan reformasi struktural yang lebih dalam pada iklim usaha dan investasinya.
Ibrahim menilai, Indonesia sebenarnya telah mencatat kemajuan signifikan dan menunjukkan kinerja ekonomi yang cukup baik.
Namun, masih terdapat sejumlah tantangan mendasar, terutama terkait kualitas lingkungan usaha.
"Persoalan tersebut sangat krusial karena Indonesia, seperti negara lain pada tingkat pendapatan yang sama, harus beralih ke mesin pertumbuhan baru," kata Ibrahim.
Model pertumbuhan Indonesia saat ini dinilai tidak lagi memadai untuk mendorong ekonomi menuju level pendapatan tinggi.
Ibrahim menyebut pendorong pertumbuhan ke depan harus semakin bersifat endogen dan berfokus pada produktivitas.
Selain itu, dapat memperluas pasar melampaui batas domestik guna mempercepat pembangunan dan inovasi.
Merujuk analisis World Bank terhadap data perusahaan dan big data di Indonesia, Ibrahim menyebut ekosistem perusahaan besar di Indonesia kurang dinamis dan produktif jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki ukuran ekonomi serupa namun berpendapatan lebih tinggi.
Kemudian, ia menyebut produktivitas perusahaan di Indonesia tidak meningkat seiring dengan pertumbuhan skala usahanya.
Temuan tersebut mengarah pada perlunya perbaikan lingkungan persaingan usaha.
Ibrahim mengatakan, tantangan tidak hanya terletak pada hambatan regulasi, tetapi juga pada penegakan kesetaraan kesempatan berusaha (level playing field) yang konsisten.
"Kondisi ini turut berdampak pada sektor keuangan, serta pasar jasa dan industri perngolahan," ujar Ibrahim.