Tingkatkan Efisiensi dan Daya Saing, Industri Nasional Terapkan Digitalisasi Berbasis AI
Digitalisasi menyasar seluruh proses bisnis dan diproyeksikan meningkatkan efisiensi produksi lebih dari 40 persen.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Perusahaan tailoring legendaris Wong Hang Bersaudara (WHB) menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba di atas 30 persen setelah menerapkan transformasi digital berbasis AI mulai 2026
- Digitalisasi menyasar seluruh proses bisnis dan diproyeksikan meningkatkan efisiensi produksi lebih dari 40 persen
- Meski mengadopsi teknologi, WHB memastikan tidak ada pengurangan tenaga kerja.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Industri tailor nasional mulai mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi produksi dan daya saing di tengah persaingan yang semakin ketat.
Transformasi ini menyasar seluruh rantai proses, dari pembuatan pola hingga pengemasan.
Salah satu pelaku usaha yang menerapkannya adalah Wong Hang Bersaudara (WHB), perusahaan tailoring yang berdiri sejak 1933 dan kini menargetkan pertumbuhan pendapatan serta laba di atas 30 persen setelah implementasi digitalisasi penuh mulai 2026.
Baca juga: DPR: Pemerintah Punya Peran Sentral Perkuat Industri Pertahanan dalam Negeri
Perusahaan tailoring legendaris Wong Hang Bersaudara (WHB) menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba di atas 30 persen setelah menerapkan transformasi digital berbasis AI secara penuh mulai 2026.
Direktur Utama WHB, Stephen Wongso, mengatakan digitalisasi dilakukan sebagai respons atas perubahan industri fashion yang semakin cepat dan kompetitif.
“Kalau kita tidak bertransformasi, kita akan tertinggal. Dunia sudah berubah. Industri tailor dan garment harus ikut beradaptasi tanpa kehilangan karakter,” ujar Stephen di sela penandatanganan kerja sama dengan AKSADIGITEX di Jakarta belum lama ini.
Stephen menjelaskan, digitalisasi di WHB tidak hanya menyasar aspek administratif, tetapi seluruh rantai proses bisnis, mulai dari manajemen, riset dan pengembangan, pembuatan pola, cutting, sewing, hingga pengemasan.
AI dimanfaatkan untuk membaca data pengukuran tubuh secara digital dan menerjemahkannya menjadi pola dasar otomatis. Sistem tersebut juga mengoptimalkan pemotongan kain guna menekan limbah serta memantau alur produksi agar lebih presisi.
“Kami perkirakan efisiensi bisa meningkat lebih dari 40 persen dari seluruh proses produksi,” ungkapnya.
Menurut Stephen, penurunan tingkat kesalahan produksi dan efisiensi bahan baku akan berdampak langsung pada peningkatan margin usaha.
“Kalau cost bisa ditekan dan error berkurang, otomatis margin meningkat. Target kami pertumbuhan bisa di atas 30 persen,” jelasnya.
Selain efisiensi internal, transformasi digital juga diarahkan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. WHB mulai memanfaatkan sistem berbasis AI untuk membaca histori pemesanan dan memberikan rekomendasi model, warna, serta potongan sesuai karakter klien.
Perusahaan juga menjajaki teknologi virtual fitting yang memungkinkan pelanggan melihat simulasi setelan pada avatar digital sebelum produksi dimulai. Langkah ini dinilai membuka peluang ekspansi pasar, termasuk untuk klien di luar kota maupun luar negeri.
Dalam proses digitalisasi tersebut, WHB menggandeng AKSADIGITEX sebagai mitra penyedia solusi teknis dan infrastruktur digital. Perwakilan AKSADIGITEX, Trianji Agus Dananto, mengatakan pihaknya mendukung berbagai proyek inovasi yang dicanangkan WHB melalui penyediaan sistem dan integrasi teknologi.