Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Harga BBM Potensi Naik Buntut Konflik AS-Iran, Picu Resesi Global

Indonesia akan menjadi salah satu negara yang terdampak dari segi ekonomi akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel

Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Sanusi
zoom-in Harga BBM Potensi Naik Buntut Konflik AS-Iran, Picu Resesi Global
Tangkap layar video Viory
SERANGAN KE IRAN - Kepulan asap tebal terlihat menjulang di atas Iran pada hari Minggu (1/3/2026), hari kedua operasi tempur 'berskala besar' AS dan Israel. 

Ringkasan Berita:
  • Perang akan terus meningkat eskalasinya, sehingga memicu terjadinya resesi global
  • Perang di kawasan Timur Tengah ini juga akan memicu kelangkaan pasokan minyak dan gas

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pendiri/Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira meyakini Indonesia akan menjadi salah satu negara yang terdampak dari segi ekonomi akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel terhadap Republik Islam Iran.

Kata Bhima, perang yang kini telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei itu akan terus meningkat eskalasinya, sehingga memicu terjadinya resesi global.

"Perang AS Iran picu resesi global yang berpotensi terjadi dalam waktu dekat. Ya Indonesia harus bersiap kalau global resesi, Indonesia akan terdampak," kata Bhima saat dimintai tanggapannya, Senin (2/3/2026).

Baca juga: Negara-negara yang Paling Berisiko Mengalami Resesi Tahun 2026

Lebih dari itu, Bhima juga meyakini, perang di kawasan Timur Tengah ini juga akan memicu kelangkaan pasokan minyak dan gas.

Hal tersebut kata dia, akan turut berdampak besar bagi pasokan minyak dan bahan bakar di dalam negeri. Bhima bahkan memprediksi harga minyak bisa tembus sampai 120 US dollar per barrel.

Rekomendasi Untuk Anda

"Perang Iran AS picu kesulitan pasokan minyak dan gas. Harga minyak yang naik terlalu cepat dan terlalu tinggi membuat shock pada sisi pasokan. Minyak bisa tembus 100-120 usd per barrel," kata dia.

Menurut dia, pemerintah memiliki dua opsi dalam menyikapi kenaikan harga minyak global tersebut, yakni dengan menaikkan harga BBM atau menahan harga BBM tetap stabil.

Apabila BBM tidak naik, maka dimungkinkan APBN akan membesar hingga Rp515 Triliun untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat.

Sementara kalau BBM naik, maka akan berpengaruh pada inflasi pangan yang dimana hal itu berdampak langsung pada kondisi ekonomi rakyat.

Baca juga: Negara-negara yang Paling Berisiko Mengalami Resesi Tahun 2026

"Konsekuensi belanja pemerintah melebar Rp515 triliun dengan asumsi BBM tidak naik. Pertanyaan nya, apa mungkin harga bbm tidak naik dengan APBN yang sempit? Begitu harga BBM naik, bertemu dengan inflasi pangan," ucap Bhima.

"Jalur transmisi resesinya dari imported inflation. Pelemahan kurs bertemu dengan naiknya harga minyak dan pangan. Kombinasi mematikan untuk melemahkan daya beli," sambung dia.

Bhima lantas menyinggung, sejatinya pemerintah tidak perlu lagi ngoyo mengedepankan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini digaungkan.

Kata dia, pemerintah harus realistis untuk mengalihkan anggaran MBG yang cukup besar tersebut untuk menjaga ketahanan energi.

Tak hanya terhadap MBG, dia juga menyorot penggunaan anggaran untuk Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas