Bursa Saham Dunia Anjlok, Harga Minyak Meroket, Pasar Khawatirkan Pasokan
Bursa saham saham di sejumlah negara anjlok sebagai rentetan ekses melonjaknya harga minyak di pasar dunia hungga di atas 100 dolar per barel.
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Bursa saham saham di sejumlah negara anjlok sebagai rentetan ekses melonjaknya harga minyak di pasar dunia hungga di atas 100 dolar per barel.
- Penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu kekhawatiran pasar akan kelancaran pasokan minyak dan memicu ganggan pengiriman dalam jangka panjang.
- Harga minyak mentah Brent di Asia naik hampir 24 persen per barel menjadi 114,74 dolar AS. Sementara minyak mentah Nymex light sweet naik lebih dari 26 persen.
TRIBUNNEWS.COM - Bursa saham saham di sejumlah negara anjlok sebagai rentetan ekses melonjaknya harga minyak di pasar dunia hungga di atas 100 dolar per barel karena terus meningkatnya eskalasi perang AS-Israel dengan Iran.
Keputusan Iran menutup Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar akan kelancaran pasokan minyak dan memicu ganggan pengiriman dalam jangka panjang.
Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik anjlok tajam pada perdagangan Senin pagi hari tadi ditandai indeks Nikkei 225 Jepang turun lebih dari 7 persen dan Hang Seng di Hong Kong kehilangan lebih dari 3 persen serta ASX 200 di Australia yang turun lebih dari 4 persen.
Indeks Kospi Korea Selatan, yang telah terpukul sangat parah sejak konflik dimulai, merosot lebih dari 8 persen, memicu penghentian perdagangan selama 20 menit.
Mekanisme yang disebut "circuit breaker" ini dirancang untuk menekan aksi jual panik. Mekanisme ini juga mulai berlaku pada hari Rabu, ketika Kospi anjlok sebesar 12 persen.
Pada Senin pagi, harga minyak mentah Brent di Asia naik hampir 24 persen per barel menjadi 114,74 dolar AS. Sementara minyak mentah Nymex light sweet naik lebih dari 26 persen menjadi 114,78 dolar AS.
Hari Minggu kemarin Iran mengumumkan penunjukan Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
AS dan Israel melancarkan gelombang serangan udara baru di seluruh Iran selama akhir pekan, menghantam berbagai target termasuk depot minyak. Iran juga terus melancarkan serangan ke instalasi vital Israel termasuk ke Kota Tel Aviv.
Baca juga: Pagi Ini Rupiah Dibuka Melemah Rp 17.019 Per Dolar AS, Senin 9 Maret 2026
Gangguan besar terhadap pasokan energi dari kawasan tersebut mengancam akan mendorong kenaikan harga bagi konsumen dan bisnis di seluruh dunia.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasanya dikirim melalui Selat Hormuz. Namun, lalu lintas melalui jalur sempit tersebut hampir terhenti sejak perang dimulai seminggu yang lalu.
Banyak pelaku pasar memperkirakan bahwa harga minyak akan mencapai 100 dolar per barel minggu ini.
Pada kenyataannya, harga minyak hanya membutuhkan waktu sekitar satu menit untuk melonjak 10 persen dan kemudian 15 menit lagi untuk naik lebih lanjut 10 persen pada perdagangan awal Asia.
Minggu lalu, pasar relatif tenang mengenai skenario mimpi buruk yang tampaknya menimpa jutaan barel minyak mentah dan gas alam cair yang terperangkap di Teluk, yang tidak dapat atau tidak mau melewati Selat Hormuz.
Baca juga: Perang Berlanjut, Harga Minyak Meroket 20 Persen Tembus 110 Dolar AS
Namun, peningkatan ketegangan selama akhir pekan, bersamaan dengan pemandangan kehancuran infrastruktur energi baik di Iran maupun di seluruh Teluk, membuat pasar dengan cepat panik.