Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Data Kredit Lebih Luas Dibutuhkan untuk Menjaga Pertumbuhan Pembiayaan

Pemanfaatan data kredit yang lebih luas dinilai menjadi kunci bagi lembaga keuangan untuk menyeimbangkan pembiayaan dan pengelolaan risiko

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Sanusi
zoom-in Data Kredit Lebih Luas Dibutuhkan untuk Menjaga Pertumbuhan Pembiayaan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
SKOR KREDIT - Pemanfaatan data kredit yang lebih luas dinilai penting untuk membantu lembaga keuangan menyeimbangkan pertumbuhan pembiayaan dengan pengelolaan risiko yang sehat. Chief Digital Transformation Officer CLIK Credit Bureau Indonesia Lucky Herviana menilai analitik data dan riwayat kredit yang komprehensif dapat meningkatkan akurasi penilaian kredit 

Ringkasan Berita:
  • Pemanfaatan data kredit yang lebih luas dinilai penting untuk membantu lembaga keuangan menyeimbangkan pertumbuhan pembiayaan dengan pengelolaan risiko yang sehat
  • Chief Digital Transformation Officer CLIK Credit Bureau Indonesia Lucky Herviana menilai analitik data dan riwayat kredit yang komprehensif dapat meningkatkan akurasi penilaian kredit
  • Kolaborasi CLIK dengan Mastercard juga diharapkan memperkuat akses pembiayaan yang lebih inklusif, khususnya bagi sektor UMKM.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Pemanfaatan data kredit yang lebih luas dinilai menjadi kunci bagi lembaga keuangan untuk menyeimbangkan pertumbuhan pembiayaan dengan pengelolaan risiko yang sehat.

Hal tersebut disampaikan Chief Digital Transformation Officer CLIK Credit Bureau Indonesia, Lucky Herviana, menanggapi meningkatnya kebutuhan analisis kredit yang lebih akurat di industri keuangan.

Menurut Lucky, lembaga keuangan saat ini menghadapi tantangan untuk terus memperluas akses pembiayaan, namun pada saat yang sama tetap menjaga kualitas portofolio kredit.

Baca juga: Transparan dan Tepat Sasaran, Pajak Rokok Topang Pembiayaan Layanan Kesehatan di Jakarta 

Karena itu, pemanfaatan data kredit yang lebih komprehensif serta analitik yang lebih canggih menjadi semakin penting.

“Memanfaatkan keahlian kami dalam pengembangan skor kredit dan luasnya data kredit nasional, kolaborasi ini diharapkan dapat membantu institusi keuangan menyelaraskan target pertumbuhan bisnis dengan manajemen risiko yang lebih prudent,” ujar Lucky di sela-sela penandatanganan kerja sama dengan Mastercard di Jakarta, belum lama ini.

Rekomendasi Untuk Anda

Ia menjelaskan, data riwayat kredit yang lebih luas serta analisis perilaku pembayaran dapat memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai profil risiko calon debitur.

Dengan demikian, lembaga keuangan dapat meningkatkan kualitas proses penilaian kredit (credit underwriting) sekaligus memperluas akses pembiayaan secara lebih terukur.

Menurut Lucky, pendekatan berbasis data juga memungkinkan lembaga keuangan mengelola portofolio kredit secara lebih efektif, termasuk dalam memantau potensi risiko serta meningkatkan efektivitas proses pemulihan utang.

Kolaborasi CLIK dengan Mastercard juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pemanfaatan analitik data dalam pengambilan keputusan di sektor keuangan. Melalui kerja sama ini, data kredit lokal milik CLIK dipadukan dengan pengalaman global Mastercard dalam manajemen risiko dan analitik keuangan.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu lembaga keuangan memperoleh strategi yang lebih terukur dalam mengembangkan portofolio kredit yang sehat.

“Kebutuhan terhadap analisis kredit yang lebih kuat semakin meningkat seiring pertumbuhan permintaan pembiayaan di Indonesia, terutama dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM),” kata Lucky.

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia memiliki sekitar 65,5 juta UMKM yang menyerap 119 juta tenaga kerja dan menyumbang lebih dari 61 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional. Namun, akses pembiayaan masih menjadi salah satu tantangan utama bagi sektor tersebut.

Baca juga: Gekrafs Rilis 8 Program Asta Karya, Fokus pada Pembiayaan IP hingga Standar Upah Pekerja Seni

Laporan International Monetary Fund dalam kajian Article IV 2026 juga mencatat bahwa pelaku UMKM di Indonesia masih menghadapi biaya pinjaman yang relatif lebih tinggi serta proses pengajuan kredit yang lebih kompleks dibandingkan sejumlah negara dengan tingkat ekonomi serupa.

Lucky menilai integrasi data kredit yang lebih luas dengan teknologi analitik dapat membantu memperkuat ekosistem pembiayaan nasional sekaligus membuka peluang akses kredit yang lebih inklusif bagi pelaku usaha maupun individu.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas