Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Jadi Sinyal Positif, Sektor Manufaktur Lampaui Pertumbuhan Ekonomi RI

Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen, sementara industri manufaktur mampu tumbuh 5,30 persen.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Jadi Sinyal Positif, Sektor Manufaktur Lampaui Pertumbuhan Ekonomi RI
Tribunnews.com/Lita Febriani
KINERJA SEKTOR MANUFAKTUR - Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso di acara diskusi Indonesia Emas 2045: Manufaktur Harus Jadi Panglima, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2026). (Tribunnews.com/Lita Febriani). 

Ringkasan Berita:
  • Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen, sementara industri manufaktur mampu tumbuh 5,30 persen.
  • Sektor ini memiliki peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi, terutama dalam mendorong hilirisasi, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kinerja industri manufaktur Indonesia menunjukkan sinyal kebangkitan pada 2025. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, pertumbuhan sektor ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Sepanjang 2025, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen, sementara industri manufaktur mampu tumbuh 5,30 persen.

Capaian ini dinilai sebagai indikator positif, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi, termasuk dinamika geopolitik dan tensi dagang internasional.

"Ini tahun pertama industri manufaktur tumbuh melebihi pertumbuhan ekonomi nasional. Secara tren sebenarnya sudah bagus," tutur Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam acara diskusi Indonesia Emas 2045: Manufaktur Harus Jadi Panglima, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (30/4/2026).

Selama ini, sektor manufaktur kerap tumbuh di bawah laju ekonomi nasional. Padahal, sektor ini memiliki peran strategis sebagai motor penggerak ekonomi, terutama dalam mendorong hilirisasi, penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah.

Rekomendasi Untuk Anda

Jika dilihat lebih dalam, pertumbuhan tertinggi pada industri pengolahan nonmigas ditopang oleh sejumlah subsektor utama.

Industri yang tumbuh positif tertinggi diantaranya Industri Mesin dan Perlengkapan 26,60 persen, Industri Logam Dasar 14,76 persen dan Industri Barang Galian Non Logam 8,98 persen.

Baca juga: Hati-hati, Pagi Ini Ada Contraflow di Tol Japek Arah ke Cikampek Km 55 Sampai 65 

"Tiga sektor ini yang tumbuh paling tinggi, jadi bisa dikonfirmasi bahwa memang ada dorongan investasi dan hilirisasi di sana," jelasnya.

Sementara industri dengan konstraksi terbesar adalah Industri Karet -12,53 persen, Industri Pengolahan Tembakau -4,97 persen dan Industri Alat Angkutan -4,73 persen.

Yang menjadi sorotan adalah kontraksi di industri alat angkut, khususnya otomotif, yang tercatat turun hampir 5 persen. Kondisi ini dinilai tidak sejalan dengan ekspektasi, mengingat sektor otomotif selama ini menjadi salah satu penopang utama manufaktur.

Pelaku industri otomotif bahkan menghadapi tantangan tersendiri dalam mendorong penjualan. Setelah sempat mencatatkan penjualan di atas 1,3 juta unit per tahun, dalam beberapa tahun terakhir angka tersebut stagnan di kisaran 800.000 hingga 850.000 unit. Target penjualan tahun ini pun masih berada di level yang sama.

Baca juga: Prabowo Buka Baju di Atas Panggung Lalu Dilempar ke Kerumunan Buruh

Fenomena ini memunculkan istilah “one million trap” di kalangan pelaku industri, yakni kondisi ketika penjualan kendaraan sulit menembus angka satu juta unit per tahun, meskipun ekonomi nasional terus tumbuh.

Kendati demikian, secara keseluruhan tren industri pengolahan dinilai mulai menunjukkan perbaikan. Data kuartal IV 2025 juga memperlihatkan perubahan pola, di mana pertumbuhan manufaktur tidak lagi tertinggal dari pertumbuhan ekonomi nasional.

"Selama ini kurva manufaktur selalu di bawah ekonomi nasional. Baru sekarang bisa melampaui. Ini menunjukkan tren yang mulai membaik," terang Susiwijono. 

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas