Rupiah Makin Ambles Pagi Ini, Pengamat Prediksi Bisa Tembus Rp 19.000
Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi dan di pasar spot diperdagangkan Rp18.129 per dolar AS.
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi dan di pasar spot diperdagangkan Rp18.129 per dolar AS.
- Pelemahan rupiah dan penurunan pasar saham dipicu oleh sejumlah faktor eksternal dan berpotensi tembus Rp19.000 per dolar.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (8/6/2026) pagi. Berdasarkan data di pasar spot Senin (8/6), kurs USD/IDR tercatat berada di level 18.129,50, atau berarti 1 dolar AS setara Rp18.129,50.
Dibandingkan sejumlah mata uang Asia lainnya, pelemahan rupiah juga terlihat lebih dalam. Pada saat yang sama, dolar AS tercatat berada di level 31,63 terhadap dolar Taiwan (TWD), 1.549,98 terhadap won Korea Selatan (KRW), dan 61,69 terhadap peso Filipina (PHP).
Pengamat ekonomi dan pasar keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah dibuka melemah cukup tajam hingga berada di level Rp18.129 per dolar AS. Pada saat yang sama, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penurunan signifikan.
"Ada kemungkinan besar kalau saya lihat dari kondisi saat ini level Rp19.000 di akhir bulan ini kemungkinan akan tercapai," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Senin.
Ibrahim menjelaskan, pelemahan rupiah dan penurunan pasar saham dipicu oleh sejumlah faktor eksternal, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Menurutnya, konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, serta eskalasi konflik Israel di kawasan Timur Tengah telah meningkatkan ketidakpastian pasar global.
Kondisi tersebut mendorong investor mencari aset yang dianggap lebih aman, sehingga permintaan terhadap dolar AS meningkat dan membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan.
Baca juga: Tahan Rupiah Tak Makin Terpuruk, Pengusaha Minta Pemerintah Jaga Kepercayaan Investor
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik juga menambah tekanan terhadap perekonomian negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang masih kuat membuat pasar memperkirakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
"Karena memang inflasi yang cukup tinggi membuat apa? Membuat kebijakan Bank Sentral Global ini akan mempertahankan suku bunga dan menaikkan suku bunga," tutur Ibrahim.
Selain faktor global, Ibrahim menilai sejumlah faktor domestik juga turut memberikan tekanan terhadap rupiah.
Kenaikan harga minyak dunia diperkirakan akan meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk impor energi. Kondisi ini berpotensi memperbesar tekanan terhadap neraca transaksi berjalan dan anggaran pemerintah.
Menurutnya, pemerintah juga menghadapi tantangan berupa meningkatnya kebutuhan subsidi energi apabila harga minyak dunia terus naik.
Di sisi lain, laju inflasi yang mulai meningkat serta surplus neraca perdagangan yang semakin menyempit turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Baca juga: Rupiah Melemah, Industri Otomotif Hadapi Tekanan Berat 2-3 Bulan ke Depan
"Nah, di sisi lain pun juga kemarin kita melihat bahwa data untuk inflasi pun juga terus mengalami kenaikan, bahkan di bulan Juni ini pun juga akan mengalami kenaikan. Kemudian neraca perdagangan surplus tapi juga menyempit. Apalagi dibarengi dengan diturunkan Modys menurunkan peringkat utang dan antara menjadi negatif, ini pun juga membuat ketegangan tersendiri," tegas Ibrahim.