Berkah Setetes Susu dan Secangkir Kopi yang Hidupi Desa Banyuanyar Boyolali
Desa Banyuanyar, Boyolali, jadi destinasi belajar wisata agro-edu berbasis UMKM kopi, susu, dan jahe yang sukses raih penghargaan BRILiaN BRI.
Penulis:
Endra Kurniawan
Editor:
Whiesa Daniswara
“Kalau bisa ATM, yakni amati, tiru, dan modifikasi menyesuaikan lokasi dan kondisi warga yang ada di sana. Saya juga ingin teman-teman mencontoh semangat Desa Banyuanyar. Tetap konsisten, bisa memaksimalkan potensi di lingkungan sekitar untuk kemaslahatan bersama,” tutupnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Hostifawati menilai Desa Banyuanyar sudah sukses melakukan hilirisasi produk-produk unggulannya.
Bahan mentah seperti kopi, jahe, dan susu tidak dijual begitu saja, namun diolah terlebih dahulu sehingga meningkatkan nilai jual.
“Saya sangat kagum sekali. Di sini merupakan sentra UMKM yang beraneka macam di setiap dusunnya,” terang dia.
Hostifawati juga percaya setiap desa bisa mandiri seperti Desa Banyuanyar. Tinggal kejelian perangkat desa melihat potensi di daerahnya. Seperti Desa Binor yang berada di wilayah pesisir membuatnya dikaruniai hasil laut melimpah.
“Di tempat saya UMKM juga sudah ada untuk pengolahan ikan. Setelah melihat Desa Banyuanyar, saya mendapat inspirasi harus bekerja lebih keras dan ikhlas mengembangkannya,” tutupnya.
Komitmen BRI Dorong Desa Mandiri
Social Entrepreneurship & Incubation Division Head PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Evi Sulistiawati menjelaskan dari desa se-Indonesia, baru 53,92 persen masuk ke dalam golongan maju dan mandiri.
Sisanya 46,08 persen masih berkembang, tertinggal, dan sangat tertinggal, berdasarkan data terbaru Direktorat Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan (Ditjen PDP).
Berdasarkan kondisi tersebut, BRI terdorong melakukan pemberdayaan desa dengan tujuan menghasilkan role model pembangunan desa dengan mengoptimalkan potensi desa berbasis Sustainable Development Goals (SDG) lewat program Desa BRILiaN.
"Program ini juga bentuk komitmen BRI dalam mendukung Asta Cita pemerintahan yang menekankan pembangunan dari desa untuk mencapai pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan," kata Evi dalam keterangannya.
Desa BRILiaN memiliki empat pilar yang menjadi fokus pemberdayaan.
Pertama, BUMDes dan koperasi desa jadi motor penggerak ekonomi desa. Kedua, digitalisasi yang merupakan implementasi produk dan aktivitas digital di desa. Ketiga, sustainability atau keberlanjutan dalam membangun desa. Dan keempat, kreatif dalam menciptakan inovasi desa.
"Objek pemberdayaan meliputi perangkat desa, pengurus BUMDes, badan permusyawaratan desa, pelaku usaha desa, dan juga penggiat produk unggulan," urai Evi.
Sejak diluncurkan pada 2020, sudah ada 5.245 Desa BRILiaN yang berkomitmen untuk maju dengan program-programnya.
Evi melanjutkan, di tahun 2026 ini, BRI menargetkan akan lahir lagi 1.000 peserta Desa BRILiaN di penjuru Indonesia.
"Semoga pelaksanaan program Desa BRILiaN mampu memberikan kontribusi nyata dan positif bagi kebangkitan ekonomi masyarakat desa," harapnya. (*)