Berkah Setetes Susu dan Secangkir Kopi yang Hidupi Desa Banyuanyar Boyolali
Desa Banyuanyar, Boyolali, jadi destinasi belajar wisata agro-edu berbasis UMKM kopi, susu, dan jahe yang sukses raih penghargaan BRILiaN BRI.
Penulis:
Endra Kurniawan
Editor:
Whiesa Daniswara
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kampus Kopi juga perlu menggelontorkan modal sebagai stimulus. Seperti membelikan mesin holden pulper untuk mengupas kopi seharga Rp20 juta.
“Saya kalau kerja sendiri tidak akan mampu. Makanya semua jajaran perangkat desa harus memiliki komitmen tinggi melibatkan berbagai pihak. Dari tokoh masyarakat, kelompok tani, ibu PKK, sampai pemuda karang taruna,” tegasnya.
Ditanya soal Pendapatan Asli Desa (PADes), Komarudin enggan merincikan. Ia menyebut PADes Banyuanyar tidak sebesar desa-desa wisata lainnya yang bisa mencapai miliaran rupiah per tahun dari retribusi parkir dan tiket masuk.
Seluruh keuntungan dari penjualan paket wisata dibagikan kepada masing-masing kampung UMKM yang 100 persen milik masyarakat.
“Saya mengatakan kepada teman-teman BUMDes, jangan berorientasi pada keuntungan. Yang penting UMKM semakin maju, masyarakatnya tambah pintar, maka berkah lain dari Tuhan akan datang,” tandas Komarudin.
Informasi tambahan, Desa Banyuanyar menyediakan berbagai paket kunjungan untuk kalangan pelajar hingga usia dewasa.
Harga termurah mulai Rp100 ribu per orang dan termahal jeep tour selama 8 jam kunjungan dengan harga Rp350 ribu per orang.
Berdasarkan data dari BUMDes, periode Januari hingga Juni 2026, Desa Banyuanyar sudah dikunjungi 1.704 wisatawan dari berbagai daerah.
Termasuk di antaranya Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia (Menteri Desa PDT RI) Yandri Susanto dan Wakil Menteri (Wamen) Ahmad Riza Patria.
Mencicipi Olahan Susu hingga Menikmati Pertunjukan Seni
Setelah menyimak pemaparan materi, para peserta kunjungan satu per satu menaiki jeep untuk diajak menjelajahi potensi unggulan Desa Banyuanyar secara langsung.
Perjalanan dimulai di Dukuh Geneng, tempat para ibu rumah tangga menjaga warisan budaya melalui seni membatik.
Tak sekadar menyaksikan, peserta juga diajak mencoba menggoreskan lilin batik memakai canting di atas kain putih untuk membentuk motif-motif sederhana.
Suasana pun terasa hangat dan penuh keceriaan, diiringi gelak tawa para peserta yang antusias belajar membatik.
Di lokasi ini turut dipamerkan beragam motif khas yang terinspirasi dari kekayaan alam dan identitas Desa Banyuanyar, salah satunya motif Sekar Puspa Kawruh Jati yang memadukan gambar keris dan biji kopi sebagai ikon unggulan desa.
Dari sentra batik, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kampung UMKM Jamur Tiram Om Jati di Dukuh Banyuanyar.