Donald Trump: Selat Hormuz Dibuka Lagi 19 Juni, Pertamina Didesak Turunkan Harga Pertamax
AS dan Iran akan menandatangani bersama dokumen perjanjian damai yang akan dilakkan di hari yang sama di Swiss dengan mediasi Pakistan.
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- Donald Trump mengatakan Selat Hormuz yang menjadi jalur minyak vital dunia akan kembali dibuka sepenuhnya pada Jumat, 19 Juni 2026.
- AS dan Iran akan menandatangani bersama dokumen perjanjian damai yang akan dilakkan di hari yang sama di Swiss dengan mediasi Pakistan.
- Sekutu AS di Eropa seperti Italia masih skeptis soal masa depan Selat Hormuz dan meminta keseriusan Israel menghentikan agresi militenya di Lebanon.
TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan Selat Hormuz yang menjadi jalur minyak vital dunia akan kembali dibuka sepenuhnya pada Jumat, 19 Juni 2026 setelah Washington dan Teheran mengumumkan kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Pembukaan kembali salah satu jalur energi terpenting di dunia ini akan menandai langkah besar menuju pengakhiran konflik mematikan dan gejolak ekonomi selama berbulan-bulan yang dipicu oleh serangan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
“Kapal-kapal mulai bergerak, banyak yang bermuatan minyak, keluar dari Selat Hormuz,” kata Trump seraya mengatakan, AS tidak akan membutuhkan banyak bantuan untuk menjaga alur pelayaran di Selat Hormuz tetap terbuka.
Pengumuman Trump tersebut memicu reli besar di pasar saham global dan saham di Dow di Wall Street mencapai rekor tertinggi, sementara harga minyak mentah anjlok hampir lima persen.
Media Iran melaporkan pada malam 15 Juni bahwa tiga kapal tanker minyak dan dua kapal kargo bermuatan telah melewati wilayah perairan yang sebelumnya diblokade oleh angkatan laut AS.
Iran telah memblokade selat tersebut sejak awal perang, menyebabkan harga minyak melonjak dan meningkatkan kekhawatiran akan guncangan inflasi yang berkepanjangan. Amerika Serikat kemudian memblokir pengiriman ke dan dari pelabuhan Iran.
AS, Iran, dan mediator Pakistan mengatakan perjanjian perdamaian AS dengan Iran akan ditandatangani pada Jumat, 19 Juni di Swiss.
Sekutu AS di Eropa Masih Skeptis
Di sela-sela penyelenggaraan KTT Kelompok Tujuh (G7) di mana Iran akan menjadi topik pembicaraan di sesi makan malam, tergambar jelas bahwa sekutu-sekutu AS di Eropa tidak menunjukkan sikap optimisme mereka atas masa depan Selat Hormuz.
Mereka tidak sependapat bahwa perdagangan dapat dilanjutkan pada akhir pekan, seperti yang dijanjikan Trump.
Sekutu AS di Eropa mempertanyakan, hal apa sebenarnya yang disepakati kedua pihak sebelum sekutu AS di Eropa ikut bergabung pada misi pembersihan ranjau dan patroli di Selat Hormuz.
Baca juga: Selat Hormuz Dibuka, Anggota DPR Desak Pertamina Turunkan Harga Pertamax
Menurut seorang pejabat G7 yang tak bersedia disebut namanya, ada kesulitan serius dalam menemukan posisi bersama di antara kelompok G7 soal bagaimana strategi menangani situasi di Iran.
Sedikit yang mengharapkan adanya komunike bersama, hal yang terbukti sulit dicapai selama era Trump.
Bahkan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, yang selama ini cerdik menghindari provokasi terhadap Trump, mengatakan, kontribusi negaranya bergantung pada penghentian permusuhan di Lebanon. Selama beberapa hari terakhir ini militer Israel telah terus menerus melakukan serangan di Lebanon.
Muncul Desakan Pertamina Turunkan Harga Pertamax