AS Akhirnya Menyerah pada Ketabahan Warga Iran, Israel Merasa Ditinggal
AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman secara elektronik untuk mengakhiri perang secara langsung.
Editor:
Willem Jonata
Ringkasan Berita:
- Presiden Pezeshkian sebut kemarahan Israel atas MoU damai Iran-AS menjadi bukti nyata kemenangan dan ketabahan historis rakyat Iran.
- Hubungan Trump & Netanyahu retak pasca-AS jalin kesepakatan dengan Iran. Israel protes karena tak dilibatkan dan pilih tetap siaga perang.
- Dimediasi Pakistan, AS dan Iran siap teken MoU damai permanen di Swiss guna akhiri perang dan buka kembali blokade Selat Hormuz.
TRIBUNNEWS.COM - Menanggapi nota kesepahaman (MoU) yang diinisiasi oleh Presiden AS Donald Trump, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa kemarahan yang ditunjukkan oleh rezim zionis Israel adalah bukti nyata dari kemenangan besar dan keberhasilan bangsa Iran.
"Kekhawatiran dan kemarahan rezim zionis atas proses ini adalah tanda jelas dari kesuksesan dan kemenangan bangsa Iran. Dengan rahmat Tuhan, jalan ini akan terus berlanjut dengan kuat," ujar Pezeshkian dalam keterangannya, Senin (15/6/2026).
Baca juga: Media Israel: Netanyahu Gagal Total Dalam Serangan ke Iran!
Pezeshkian juga memuji habis-habisan tim negosiator Iran, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araqchi, yang berhasil mengamankan kesepakatan lewat mediasi Pakistan.
Menurutnya, keberhasilan diplomatik ini tak lepas dari kekompakan tiga cabang pemerintahan dan Angkatan Bersenjata Iran yang tetap tunduk pada arahan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Seyed Mojtaba Khamenei.
Apresiasi senada juga dilontarkan oleh Mohammad Baqer Qalibaf.
Lewat akun X miliknya, ia memuji ketabahan luar biasa warga Iran dan keberanian militer dalam menghadapi agresi gabungan AS-Israel yang meletus sejak 28 Februari lalu, termasuk blockade di Selat Hormuz.
"Bangsa Iran yang terhormat dan bermartabat! Dengan perlawanan bersejarah Anda, Iran telah mengambil langkah besar menuju kemenangan akhir. Mereka ingin (menghancurkan kita), tapi mereka tidak bisa," tulis Qalibaf.
Di cuitan tersebut, ia juga mengunggah foto pohon cemara Abarkuh berusia 4.500 tahun sebagai simbol ketahanan Iran.
Keretakan Trump dan Netanyahu
Di sisi lain, perdamaian sepihak yang diambil Washington ini memicu perpecahan domestik antara AS dan sekutu utamanya, Israel.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka mengakui adanya keretakan dan ketidaksetujuan antara dirinya dan Donald Trump terkait kesepakatan damai ini.
Israel merasa ditinggalkan karena sama sekali tidak dimintai pendapat dalam penyusunan draf awal.
"Trump dan saya adalah mitra yang sepakat dalam banyak hal, namun tidak sepakat dalam beberapa hal," aku Netanyahu dalam konferensi pers dikutip Al Arabiya.
Merasa kecolongan oleh sekutunya, Netanyahu menegaskan bahwa tentara Israel tidak akan memedulikan kesepakatan tersebut.
Ia bersumpah akan tetap mempertahankan pasukan di "zona penyangga keamanan" di Lebanon, Gaza, dan Suriah demi membendung pergerakan Hizbullah dan memotong poros pengaruh Iran.