Dari Dapur Kontrakan ke Rak Swalayan, Lompatan Cuan Kebab Endul Berkat Rumah BUMN BRI
Sepanjang tahun 2025, Kebab Endul diberikan kepercayaan penuh oleh BRI untuk mengisi ruang pameran di ajang bergengsi IFBC.
Penulis:
Dodi Esvandi
Editor:
Wahyu Aji
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Deru mesin kendaraan di kawasan Bintara, Kota Bekasi, Jawa Barat, sore itu berpadu dengan kepulan asap tipis yang membubung dari sebuah kios sederhana.
Aroma daging panggang yang gurih, berbalut rempah khas Timur Tengah yang kuat, seketika menyeruak, menggoda selera siapa saja yang melintas di depannya.
Sebuah banner dengan warna dasar kuning bertuliskan "Kebab Frozen Endul" terpampang di bagian depan kios.
Sementara di teras kios sebuah gerobak dilengkapi kompor griddle menyambut para pembeli yang ingin menikmati endulnya hidangan daging khas timur tengah itu.
Silih berganti, sepeda motor menepi, memesan kebab hangat siap saji yang diracik langsung di tempat.
Namun, denyut nadi utama bisnis ini sebenarnya berada di balik sekat dinding tripleks kios tersebut.
Di ruang produksi yang bersih meski berukuran minimalis, beberapa pasang tangan terampil dengan cekatan mengiris daging yang menumpuk, menimbangnya dengan presisi, lalu menggulungnya erat-erat ke dalam lembaran tortilla lembut.
Aisah Ratna Wulandari, pemilik sekaligus otak di balik Kebab Frozen Endul menyambut ramah kedatangan Tribunnews ke kios tersebut siang itu.
Siapa sangka, di balik kemasan rapi dan sistem produksi yang kini teratur, bisnis makanan beku (frozen food) ini dulunya merangkak dari titik paling nadir dalam kehidupan Aisyah—panggilan akrabnya.
Aisyah memulai bisnisnya itu bermodalkan sebuah kulkas dua pintu yang sudah usang dan dapur rumah kontrakan yang sempit.
Berdiri di Atas Keterbatasan Pandemi
Mundur ke tahun 2020, dunia tengah lumpuh akibat hantaman pandemi Covid-19.
Bagi Aisyah, badai itu tidak hanya memukul ruang publik, tetapi juga menghempaskan ekonomi keluarganya hingga ke titik terendah.
Kantin sekolah tempatnya sehari-hari ia menggantungkan hidup dengan berjualan makanan, terpaksa tutup total karena aktivitas belajar mengajar dialihkan ke rumah.
Seolah cobaan belum cukup, di saat yang bersamaan, buah hatinya divonis menderita sakit jantung dan membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit.
Secara ekonomi dan mental, Aisyah dan suaminya berada dalam fase paling kritis.