Menyoal Status Solo Zona Hitam Covid, Diucap Pemkot, Bikin Ganjar Geram, dan Diralat Wali Kota
Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, geram akan disebutnya Kota Solo sebagai zona hitam pandemi Covid-19. Wali Kota Solo meralat status zona hitam.
Penulis: Wahyu Gilang Putranto
Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
"PPDS-nya ada 15 orang, itu macam-macam ada yang dokter residen dan lain-lain," tutur Ahyani.
Adapun tiga orang lainnya merupakan non tenaga kesehatan.
"Solo tidak pernah mencatat sebanyak ini," kata Ahyani.
Baca: FAKTA 25 Calon Dokter Spesialis dari UNS Solo Positif Covid-19 di RSUD Dr Moewardi
Menurut Ahyani, peningkatan tajam penambahan kasus pasien terkonfirmasi positif Covid-19 lantaran ketidaksiplinan masyarakat dalam menerapkan protokoler kesehatan.
"Sekolah tidak boleh tatap muka, hajatan tidak boleh," katanya.
Ahyani menegaskan tracing massif akan semakin digalakkan guna memutus mata rantai penularan Covid-19.
"Harus tracing massif, di luar akan swab khususnya tempat-tempat keramaian," tegasnya.
Wali Kota Nilai Tak Berlebihan Lalu Meralat
Sementara itu Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo sempat menilai tidak berlebihan Solo disebut zona hitam.
Dilansir Kompas.com, menurut Rudy, ada pertimbangan dalam memutuskan status zona hitam penyebaran Covid-19 di Solo.
"Biasanya hanya satu, dua kasus positif, ini langsung nambah 18 kasus baru pasien positif Covid-19. Pak Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Percepatan Covid-19 Solo (Ahyani) menyampaikan zona hitam itu benar," kata Rudy di Balai Kota Solo, Jawa Tengah, Senin (13/7/2020).
Adanya status zona hitam tersebut, menurut Rudy, diharapkan masyarakat lebih waspada dan berhati-hati terhadap penyebaran Covid-19.
"Zona hitam itu biar masyarakat lebih waspada. Secara indikator Solo belum masuk zona hitam. Zona hitam itu kalau di Solo yang positif itu sudah 60 persen dari total jumlah penduduk," ungkapnya.
Baca: Anggota DPRD Jateng Meninggal Dunia Kena Corona, Sebelumnya Sempat Bagi Sembako di Solo Raya
Bagi Rudy status zona hitam tidak berlebihan.