Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Penanganan Covid

Tingkatkan Akurasi, Peneliti UGM Terus Sempurnakan GeNose

Alat skrining atau deteksi Covid-19 GeNose terus dikembangkan dan dimutakhirkan agar menjadi alternatif

Tingkatkan Akurasi, Peneliti UGM Terus Sempurnakan GeNose
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
Ilustrasi: Calon penumpang kereta api menjalani layanan deteksi Covid-19 dengan metode GeNose C19 (Gajah Mada Electric Nose Covid-19) di Stasiun Bandung, Jalan Kebon Kawung, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (15/2/2021). PT Kereta Api Indonesia (KAI) mulai menerapkan tes GeNose C19 bagi calon penumpang di Stasiun Bandung dengan tarif Rp 20.000, sebagai salah satu syarat perjalanan kereta api jarak jauh untuk mengantisipasi terjadi kerumunan kepadatan pelayanan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Tribun Jabar/Gani Kurniawan 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fandi Permana

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Alat skrining atau deteksi Covid-19 GeNose terus dikembangkan dan dimutakhirkan agar menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat yang membutuhkan hasil test corona.

Alat deteksi Covid-19 buatan Universitas Gadjah Mada ini masuk dalam tahap penyempurnaan. Para peneliti UGM berupaya meningkatkan akurasi GeNose agar tingkat akurasi hasil testnya bisa setara dengan Swab PCR.

Ketua Tim Peneliti GeNose, Kuwat Triyana, mengatakan penyempurnaan GeNose dilakukan di sisi artificial intelligence atau kecerdasan buatan dan prosedur operasi standar penggunaan alat.

Baca juga: Usai Jajal GeNose C-19, Pelni Pastikan Protokol Kesehatan Tetap Prioritas

“Kami berupaya mengembangkan akurasi GeNose dengan menambah kemampuan sensitivitas dan spesifitas. Jika itu sudah dimutakhirkan akan berdampak pada tingkat akurasi GeNose yang semakin tinggi,” ujar Kuwat dalam siaran pers, Jumat (26/2/2021).

Kuwat menambahkan saat ini para peneliti GeNose UGM sedang fokus pada aspek kontamintasi yang dapat menyebabkan sensitivitas GeNose terganggu. Misal, jika seseorang yang baru saja merokok sebelum dites, GeNose akan secara memperbarui sampel setiap hari berdasarkan tipe hembusan napas tiap masing-masing orang.

Hal serupa juga dikatakan peneliti GeNose lainnya, Dian K Nurputra. Ia mengatakan bahwa secara teknologi dan teknik, mesin GeNose telah mutakhir.

Baca juga: Komisi V DPR Minta Harga Tes GeNose di Bandara Tak Lebih dari Rp 20 Ribu

Meski demikian, saat ini peneliti masih menyempurnakan kecerdasan buatan yang menjadi otak dari alat deteksi Covid-19 tersebut.

“Penggunaan GeNose di stasiun dan bandara akan menghimpun data-data baru bagi pengembangan kecerdasan buatan yang semakin akurat. Tim peneliti GeNose terus berupaya mengembangkan dan memutakhirkan alat ini agar membantu pengetesan Covid-19 bagi masyarakat,” ucapnya.

Selain itu, ia menegaskan GeNose berbeda dari teknologi serupa dari negara lain. GeNose memanfaatkan sistem semburan pada kantong nafas yang tidak tersambung langsung dengan mesin.

Baca juga: Bandara Kulonprogo Pastikan Kesiapan Penggunaan GeNose C-19 untuk Calon Penumpang Pesawat

Saat kantong nafas elektronik disambungkan ke mesin, maka proses isapan disertai aliran udara yang stabil ke dalam mesin akan membuat pembacaan sensor lebih akurat.

Secara teknis, embusan nafas seseorang yang dites tidak langsung ditiupkan ke alat sensor GeNose. Justru tiupan langsung itu akan membuat sensor tidak akurat karena aliran udara yang tidak stabil dan bervariasi dari masing-masing pengguna.

Penggunaan GeNose terus didorong oleh Kementerian Perhubungan yang berencana semua moda transportasi bisa menerapkan hasil tes alat itu sebagai syarat kelengkapan perjalanan jauh.

Ikuti kami di
Editor: Hendra Gunawan
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas