Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Penanganan Covid

ITAGI Rekomendasikan Interval Penyuntikan Dosis Vaksin AstraZeneca 8 Minggu

ITAGI menyarankan, pemberian dosis pertama vaksin AstraZeneca dan kedua dilakukan dalam rentang waktu atau interval 8 minggu atau dua bulan.

ITAGI Rekomendasikan Interval Penyuntikan Dosis Vaksin AstraZeneca 8 Minggu
Tribunnews/HO/Puspen TNI
Pelaksanaan vaksinasi Covid-19 AstraZeneca di Mabes TNI yang dilaksanakan oleh Pusat Kesehatan (Puskes) TNI dan diberikan kepada PNS Unit Organisasi Mabes TNI dengan target 2.850 vaksin, bertempat di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (26/3/2021). Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyiapkan 130.000 vaksin Covid-19 AstraZeneca yang diberikan oleh Pemerintah melalui Menteri Kesehatan, yang akan didistribusikan kepada seluruh Prajurit dan PNS TNI di 10 Provinsi Indonesia. ITAGI Rekomendasikan Interval Penyuntikan Dosis Vaksin AstraZeneca 8 MingguTribunnews/HO/Puspen TNI 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Ketua Indonesia Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) Sri Rezeki Hadinegoro menyarankan, pemberian dosis pertama vaksin AstraZeneca dan kedua dilakukan dalam rentang waktu atau interval 8 minggu atau dua bulan.

Dalam keterangam resmi ITAGI, vaksin Covid-19 AstraZeneca dapat diberikan pada usia >18 tahun, sesuai dengan EUA yang telah diperbaiki pada interval dosis kedua menjadi 4 – 8 minggu atau 8 – 12 minggu.

"Namun untuk pelaksanaan di lapangan secara operasional lebih tepat dipilih dengan interval 8 minggu," ujar Sri dalam keterangan yang dikutip Rabu (31/3/2021).

Baca juga: ITAGI : Vaksin AstraZeneca Aman untuk Usia 18 Tahun ke Atas, Juga untuk Lansia 

Baca juga: Apakah Lansia Lebih Berisiko Terkena Efek Samping Vaksin Covid-19? Begini Penjelasannya

Dalam pelaksanaan penyuntikan vaksin asal Inggris ini, Sri mengingatkan agar diperlukan kehati-hatian pada pemberian vaksin Covid-19 AstraZeneca untuk usia lansia terutama dengan komorbid (dengan memperhatikan skrining menurut kriteria frailty/renta).

Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin AstraZeneca pada 20 Maret 2021 di Ede, tempat kampanye vaksinasi melawan Covid-19
Seorang petugas kesehatan menyiapkan dosis vaksin AstraZeneca pada 20 Maret 2021 di Ede, tempat kampanye vaksinasi melawan Covid-19 (Piroschka van de Wouw / ANP / AFP)

Berdasarakan WHO-Global Advisory Committee on Vaccine Safety (GACVs) dan EMA, vaksin Covid-19 AstraZeneca mempunyai lebih banyak manfaatnya daripada efek samping.

Gangguan pembekuan darah tidak ditemukan pada uji klinis vaksin AstraZeneca dan tidak terdapat bukti bahwa kejadian tersebut berhubungan dengan bets tertentu.

Gangguan pembekuan darah merupakan kejadian yang sangat jarang terkait dengan vaksin.

"Kejadian akan dipantau secara berkala untuk mendapatkan kesimpulan kausalitas. Diperlukan penguatan surveilans keamanan vaksin
AstraZeneca," ungkap Sri.

Diketahui, sebanyak 1,1 Juta vaksin AstraZeneca yang tiba di Indonesia bantuan dari COVAX facility, telah didistribusikan ke tujuh provinsi, yakni Bali, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Maluku serta DKI Jakarta.

Vaksinasi AstraZeneca di Sulawesi Utara sempat dihentikan sementara, setelah ada laporan terkait efek samping.

Namun setelah dilakukan investigasi, hasilnya KIPI yang terjadi masuk dalam kategori ringan.

Sehingga penyuntikan vaksin AstraZeneca direkomendasikan berlanjut.

Ikuti kami di
Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Anita K Wardhani
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas