Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Gelombang Kedua Covid-19 di India Diprediksi Terjadi di Minggu Kedua Mei

Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Profesor Tjandra Yoga Aditama menyebut, puncak lonjakan kasus Covid-19 Minggu kedua Mei 2021

Gelombang Kedua Covid-19 di India Diprediksi Terjadi di Minggu Kedua Mei
Punit Paranjpe/AFP]
Pasien covid-19 di India menggunakan oksigen. Obat Covid-19 dan Oksigen Langka Di Rumah Sakit, Warga India Berburu ke Pasar Gelap 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Guru Besar Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Profesor Tjandra Yoga Aditama menyebut, puncak lonjakan kasus Covid-19 jatuh pada Minggu kedua Mei 2021.

Seperti diketahui jumlah kasus COVID-19 di India sudah melewati 400 ribu orang dalam beberapa hari terakhir.

"Ada prediksi modelling dari beberapa pihak termasuk Indian Council of Medical Research (ICMR) bahwa gelombang ke dua serangan COVID-19 di India sekarang ini akan mencapai puncaknya pada minggu pertama atau minggu ke dua bulan Mei ini," ujar Mantan Direktur WHO SEARO Asia Tenggara ini melalui pesan elektronik yang diterima Selasa (3/5/2021).

Baca juga: Sebaran Covid-19 di India Menggila, Perdana Menteri Modi Dikecam Longgarkan Pembatasan Kegiatan

Baca juga: Angka Riil Kasus Covid-19 di India Disebut 10 Kali Lebih Tinggi, 3-5 Mei Dapat Memuncak

Namun, ia menuturkan tentu ada beberapa keterbatasan pada prediksi tersebut, khususnya karena masih ada berbagai variable yang masih belum pasti perkembangannya.

Ia mengatakan , situasi lockdown sekarang ini tidaklah seketat seperti Maret April 2020 lalu.

Dampak lockdown, seorang pria di Karnataka, India ditemukan memungut makanan dari tempat pembuangan sampah.
Dampak lockdown, seorang pria di Karnataka, India ditemukan memungut makanan dari tempat pembuangan sampah. (India.com)

Kemudian, dalam rangka kewaspadaan, sekarang kalau seseorang sedang ke luar rumah dan ketemu polisi dan menjawab akan pergi ke apotik atau toko.

"Polisi dan petugas akan bertanya detail sakitnya, obat apa yang akan dibeli dan bahkan mungkin akan ada pengecekan ke rumah dengan segala tindakan lainnya yang terkait," ujarnya.

Sebagai langkah ke depan, India kemungkinan akan memberlakukan lockdown yang lebih ketat di hari mendatang.

"Ada kekhawatiran untuk ketersediaan vaksin mengingat kasus yang terus meningkat ini. Pemerintah India mengeluarkan strategi baru fase tiga vaksinasi COVID-19 yang menyebutkan bahwa mulai 1 Mei 2021 maka semua warga negara India yang berusia 18 tahun ke atas akan mendapat vaksinasi," ungkap Prof.Tjandra.

Baca juga: Soroti Kerumunan di Pasar Tanah Abang, Ketua Satgas IDI Singgung soal Kasus di India

Baca juga: Rumah Sakit di India Terpaksa Tolak Pasien Covid-19 Karena Tak Ada Oksigen

Hanya saja pelaksanaannya belum terlalu lancar karena beberapa negara bagian belum dapat memulai fase tiga ini pada 1 Mei karena kelangkaan ketersediaan vaksin, yang mereka harapkan akan teratasi dalam beberapa hari ini.

Sejauh ini India dilaporkan sudah memvaksin sekitar 150 juta orang, atau sekitar 11 dosis vaksin per 100 penduduknya.

Menurut data The New York Times maka di dunia pada 1 Mei 2021 sudah lebih dari 1,13 milyar dosis vaksin disuntikkan, atau setara dengan 15 dosis per 100 penduduk dunia.

Tentu distribusinya tidaklah merata. Sepuluh negara terbanyak memberikan vaksinasi COVID-19 per 100 penduduk negaranya adalah berturut-turut adalah Seychelles (130 dosis vaksin per 100 penduduknya), Israel, U.A.E., San Marino, Chili, Bahrain, Maldives, Inggris, Amerika Serikat dan Malta.

Ikuti kami di
Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Anita K Wardhani
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas