Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Penanganan Covid

KABAR BAIK:PERKI Rekomendasikan Vaksin AstraZeneca Dapat Digunakan untuk Pasien Jantung

Kini pasien jantung tidak perlu khawatir dan ragu untuk menerima suntikan vaksin AstraZeneca

KABAR BAIK:PERKI Rekomendasikan Vaksin AstraZeneca Dapat Digunakan untuk Pasien Jantung
Istimewa
Ilustrasi Astra Zeneca 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kini pasien jantung tidak perlu khawatir dan ragu untuk menerima suntikan vaksin AstraZeneca.

Ketua PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Dr dr Isman Firdaus, SpJP(K), mengingatkan, ancaman Covid-19 lebih berisiko daripada efek samping vaksin Covid-19.

"Kami (PERKI) mengimbau semua atau pasien yang memiliki komorbid jantung untuk tidak khawatir divaksinasi. Jika tidak ada keluhan, silahkan datang untuk divaksin, karena vaksinasi ini bentuk salah satu ikhtiar kita bersama mencegah Covid-19," ungkap dr Isman dalam konferensi pers virtual, Jumat kemarin.

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) menyatakan dalam surat rekomendasinya bahwa, pasien dengan komorbid kardiovaskular termasuk penyakit jantung koroner, atrial fibrilasi, penyakit jantung bawaan, riwayat typical venus thromboembolism (VTE) seperti deep vein thrombosis (DVT) tungkai atau emboli paru, adanya trombus intrakardiak serta penggunaan antikoagulan rutin dapat menggunakan vaksin AstraZeneca selama pasien dalam kondisi stabil dan memenuhi kriteria yang telah disampaikan PERKI.

Sementara pasien dengan riwayat heparin-induced thrombocytopenia (HIT) penurunan kadar trombosit akibat penggunaan heparin masuk dalam kelompok yang memerlukan perhatian khusus dan direkomendasikan untuk mendapatkan jenis vaksin lain bila memungkinkan.

"Vaksin AstraZeneca dilaporkan memiliki efektivitas yang baik dan telah mendapat persetujuan untuk digunakan dalam upaya pencegahan penularan Covid-19," tulis keterangan PERKI, Sabtu (19/6/2021).

Disampaikan juga, sindrom yang sangat jarang berupaya pembekuan darah disertai penurunan kadar trombosit (thrombosis with thrombocytopenia syndrome) dilaporkan terjadi sekitar 4-20 hari setelah vaksinasi.

Baca juga: Gunakan Alat Bantu Jantung, Karier Christian Eriksen Dipastikan Belum Tamat

Hubungan sebab akibat antara vaksindan kejadian trombosis diduga ada, namun hipotesis tentang mekanisme biologisnya masih memerlukan investigasi lebih lanjut. 

"Risiko kejadian trombosis terkait vaksin AstraZeneca yang telah dilaporkan sangat kecil (sekitar 3.6 kasus per 1 juta orang yang divaksinasi) dengan lebih dari 78 juta dosis vaksin AstraZeneca telah digunakan di Eropa. Kejadian trombosis akibat Covid-19 dilaporkan sebanyak 207.1 kasus per 1 juta kasus Covid-19, lebih tinggi dibandingkan kejadian trombosis akibat vaksin AstraZeneca," lanjut keterangan tersebut.

Sebaran kasus trombosis terkait vaksinasi AstraZeneca di Eropa dilaporkan lebih banyak pada usia dewasa muda dibandingkan dewasa tua.

Namun demikian, rekomendasi penggunaan vaksi AstraZeneca menurut usia dikembalikan pada rekomendasi Badan POM RI.

Masih dalam surat rekomendasi itu ditegaskan bahwa setiap penerima vaksin AstraZeneca tetap dipantau sesuai panduan KIPI dan bila ada keluhan spesifik seperti sakit kepala hebat, pandangan mata terganggu, sesak nafas atau nyeri dada tiba-tiba, bengkak pada salah satu tungkai, nyeri perut yang hebat atau timbulnya bintik pendarahan di luar area penyuntikan, maka disarankan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas