Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Virus Corona

LaporCovid-19 Ungkap Banyak Warga Enggan ke Rumah Sakit Karena Takut 'Dicovidkan'

Inisiator LaporCovid-19 Ahmad Arif mengungkapkan banyak warga yang sebenarnya telah positif Covid-19, namun enggan berobat ke rumah sakit.

LaporCovid-19 Ungkap Banyak Warga Enggan ke Rumah Sakit Karena Takut 'Dicovidkan'
TRIBUNNEWS/Nur Ichsan
Ilustrasi: Pekerja sedang memakamkan jenazah Covid-29 di TPU Selapajang, Kota Tangerang, Jumat (2/7/2021). Banyaknya jumlah jenazah Covid-19 yang dimakamkan, saat ini lahan TPU Selapajang, tinggal tersisa 3000 meter persegi, untuk mengantisipasi keterbatasan lahan kini pihak TPU menyediakan lahan tambahan untuk pemakaman Covid-19 seluas 7000 meter persegi. 

Laporan wartawan Tribunnews.com, Fahdi Fahlevi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Inisiator LaporCovid-19 Ahmad Arif mengungkapkan banyak warga yang sebenarnya telah positif Covid-19, namun enggan berobat ke rumah sakit.

Ahmad Arif mengatakan banyak warga yang takut ke fasilitas kesehatan, karena isu akan dinyatakan terpapar Covid-19 oleh pihak rumah sakit atau dicovidkan.

"Kami temukan ada pasien yang enggak mau ke rumah sakit karena berbagai alasan. Ada yang takut dicovidkan lah dan terutama ini di daerah," ujar Ahmad Arif dalam webinar yang digelar CISDI, Senin (12/7/2021).

Ahmad Arif mengatakan kasus ini banyak terjadi di daerah Jawa Timur.

Warga cenderung menyangkal bahwa dirinya telah positif Covid-19.

Sehingga, warga telat mendapatkan penanganan medis dan akhirnya meninggal di rumah.

Baca juga: Respons Pimpinan DPR Soal Rencana Vaksin Covid-19 Berbayar

Kasus terbaru terjadi di Gunung Kidul, Yogyakarta.

"Mereka beranggapan sakit biasa dan mereka cenderung denial dengan Covid-19. Sehingga akhirnya terlambat diperiksa ditangani dan dikonfirmasi positif setelah meninggal," kata Ahmad Arif.

Selain itu, tim LaporCovid-19 menemukan banyak pasien Covid-19 yang tidak terpantau selama menjalani isolasi mandiri.

Ada pula pasien positif Covid-19 yang tidak bisa dirawat karena kapasitas rumah sakit sudah tidak bisa menampung.

Baca juga: Penjelasan Menkes soal Vaksin Covid-19 Berbayar: Pemerintah Buka Opsi yang Luas

"Rata-rata pasien isoman meninggal itu, anggota keluarganya positif sehingga menyulitkan pengurusan jenazah. Ada risiko mereka bisa terlambat kalau tidak ditangani," kata Ahmad Arif.

Tim LaporCovid-19 menemukan pula bahwa sebagian pasien isoman ditemukan setelah meninggal.

LaporCovid-19 mencatat hingga saat ini terjadi 451 kasus kematian terhadap pasien Covid-19 yang menjalani isoman.

Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Adi Suhendi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas