Tribun

Virus Corona

WHO Sentil Tes Indonesia Rendah, Komisi IX : Pemerintah Harus Serius Cegah Gelombang Ketiga

Melandainya kasus konfirmasi positif di Indonesia harus dipertahankan dengan tetap menjaga protokol 5M bagi masyarakat dan 3T bagi pemerintah

Penulis: Vincentius Jyestha Candraditya
Editor: Eko Sutriyanto
WHO Sentil Tes Indonesia Rendah, Komisi IX : Pemerintah Harus Serius Cegah Gelombang Ketiga
ISTIMEWA
Anggota Komisi IX DPR RI, Kurniasih Mufidayati 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Vincentius Jyestha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyinggung rendahnya angka testing Covid-19 di Indonesia dalam sepekan terakhir, 7-13 Oktober 2021.

WHO menyebut proporsi tes positif secara nasional masih di bawah 2 persen atau hanya ada 1 per 1.000 penduduk menjalani tes Covid-19. Sementara sebelumnya dalam empat pekan terakhir angkanya lebih dari 4:1000 penduduk per minggu. 

Anggota Komisi IX DPR RI Fraksi PKS Kurniasih Mufidayati mengingatkan agar melandainya kasus konfirmasi positif di Indonesia harus dipertahankan dengan tetap menjaga protokol 5M bagi masyarakat dan 3T bagi pemerintah.

"Testing untuk mencari kasus positif dari orang yang bergejala bisa jadi menurun seiring menurunnya kasus. Tapi testing untuk mencari kontak erat dan testing acak untuk mencari kasus konfirmasi tidak boleh kendur karena angka konfirmasi harian kita masih ada, bukan 0," ujar Mufida, dalam keterangannya, Sabtu (16/10/2021).

Mufida juga mengingatkan potensi gelombang ketiga yang diprediksi bisa terjadi pada akhir tahun seiring pelonggaran pembatasan pada Agustus. 

Baca juga: Soal Rachel Vennya Kabur dari Karantina, Satgas Covid-19 Tegaskan Proses Hukum Sedang Berjalan

Potensi ini harus dicegah secara sungguh sungguh oleh pemerintah. Dan 3 T menjadi salah satu kunci untuk mengetahui potensi terjadinya kenaikan angka kasus positif.

Dia menyebut tidak mengharapkan adanya gelombang ketiga dengan tetap mempertahankan protokol 5M dan 3T tersebut. Meski begitu, belajar dari hantaman gelombang kedua pada Juni-Juli lalu, perlu disiapkan skenario matang jika terjadi hantaman gelombang ketiga.

"Para ahli melakukan prediksi, terjadi atau tidak yang jelas wajib dilakukan adalah melakukan kesiapan. Dipastikan ada stok obat, stok bed perawatan, stok oksigen dan ketersediaan tempat karantina terpusat," ujar Mufida.

Mufida menyebut kesiapan ini sebagai bentuk antisipasi munculnya gelombang-gelombang berikutnya.

Sebab, banyak negara yang sudah mengalami serangan gelombang ketiga.

"Antisipasi wajib dilakukan dengan tetap agresif dalam pelaksanaan vaksinasi terutama di wilayah yang sulit akses dan dipastikan adanya supply chain vaksinasi yang adil dan merata di semua daerah," tandasnya. 
 

Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas