Tribun

Virus Corona

Varian AY.4.2 Mutasi Alamiah SARS-CoV2, Apakah Berbahaya? Ini Penjelasan Pakar dari UGM

Saat ini varian dari Inggris ini sudah terdeteksi di Malaysia. Indonesia tetap harus memperketat perbatasan tuk antisipasi masuknya varian baru.

Penulis: Rina Ayu Panca Rini
Editor: Willem Jonata
Varian AY.4.2 Mutasi Alamiah SARS-CoV2, Apakah Berbahaya? Ini Penjelasan Pakar dari UGM
freepik
Ilustrasi Covid-19 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Rina Ayu

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM dr. Gunadi, mengatakan varian Delta Plus atau AY.4.2 merupakan hasil  mutasi alamiah yang terjadi pada virus termasuk SARS-CoV2 penyebab Covid-19.

Ia menyebut, hasil mutasi ini tidak selalu lebih berbahaya.

“Sekali lagi AY.4.2 belum ada bukti yang menunjukkan lebih ganas ya ataupun lebih mudah menular dibandingkan varian induknya, varian Delta (B.1.617.2),” kata Gunadi, seperti dikutip dari laman resmi UGM.ac.id, Rabu (17/11/2021).

Gunadi menyebutkan, sampai saat ini belum ada bukti riset terkait tingkat keganasan varian ini lebih berbahaya dari dari varian Delta.

Baca juga: Strain Baru Varian Delta Terdeteksi di Norwegia

"Otoritas Kesehatan Inggris juga baru menggolongkannya menjadi Variant Under Investigation, belum VOI ataupun VOC,”paparnya.

Meski varian ini berasal dari Inggris dan saat ini sudah terdeteksi di Malaysia, Indonesia tetap harus memperketat perbatasan untuk mengantisipasi masuknya setiap varian baru.

”Sebetulnya pencegahan penyebaran varian apapun termasuk AY.4.2 sama. Mestinya pemerintah sudah antisipasi termasuk terkait perbatasan antar negara,” tegasnya.

Terkait, kenaikan lonjakan penularan kasus Covid-19 di Inggris belakangan ini, belum tentu disebabkan oleh varian tersebut. Sebab, di Inggris penerapan pembatasan dan protokol kesehatan juga sudah longgar.

Baca juga: Muncul Varian Baru Corona AY.4.2, Varian Turunan Delta Penyebab Lonjakan Kasus di Inggris

“Tergantung banyak faktor, salah satu faktor yang penting adalah bagaimana aktivitas masyarakat khususnya prokes,” ujarnya.

Menurutnya, protokol kesehatan harus diperkuat dalam segala aktivitas kegiatan di masyarakat hingga tercapainya kekebalan komunal.

“Kuncinya satu, prokes. Sampai kapan? sampai kekebalan komunal tercapai,” pesannya.

Ikuti kami di
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas