Tribun

Virus Corona

WHO: Belum Jelas Apakah Omicron Sebabkan Penyakit yang Lebih Parah

lembaga ini menegaskan kembali bahwa bukti awal menunjukkan kemungkinan adanya risiko infeksi ulang yang lebih tinggi dari varian tersebut

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Eko Sutriyanto
WHO: Belum Jelas Apakah Omicron Sebabkan Penyakit yang Lebih Parah
AFP/WILLIAM WEST
Pelancong internasional yang mengenakan alat pelindung diri (APD) tiba di Bandara Tullamarine Melbourne pada 29 November 2021 ketika Australia mencatat kasus pertama varian Omicron dari Covid-19. (Photo by William WEST / AFP) 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JENEWA - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada hari Minggu kemarin bahwa belum jelas apakah varian baru virus corona (Covid-19) 'Omicron' lebih menular dibandingkan dengan varian SARS-CoV-2 lainnya atau dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah.

"Data awal menunjukkan bahwa ada peningkatan tingkat rawat inap di Afrika Selatan, namun ini mungkin karena peningkatan jumlah keseluruhan orang yang terinfeksi, bukan akibat infeksi spesifik terkait Omicron," kata WHO.

Kendati demikian, dalam sebuah pernyataan, lembaga ini menegaskan kembali bahwa bukti awal menunjukkan kemungkinan adanya risiko infeksi ulang yang lebih tinggi dari varian tersebut.

Dikutip dari laman Channel News Asia, Senin (29/11/2021), WHO mengaku sedang bekerja dengan para ahli teknis untuk memahami potensi dampak varian ini pada tindakan pencegahan yang ada terhadap penyakit Covid-19, termasuk vaksinasi.

Baca juga: UPDATE Kasus Corona Indonesia 29 November 2021: Tambah 176 Positif, 419 Sembuh, 11 Meninggal

"Saat ini tidak ada informasi yang menunjukkan bahwa gejala yang terkait dengan Omicron ini berbeda dari varian lainnya," jelas WHO.

Menurut organisasi tersebut, penelitian infeksi awal yang dilaporkan itu termasuk diantaranya studi yang dilakukan universitas bahwa individu yang lebih muda cenderung memiliki penyakit yang lebih ringan.

"Namun memahami tingkat keparahan varian Omicron ini tentu akan membutuhkan waktu berhari-hari hingga beberapa minggu," papar WHO.

Tes PCR pun diharapkan terus dilakukan semua negara agar bisa mendeteksi kasus infeksi yang ditimbulkan varian yang kali pertama terdeteksi di Afrika Selatan ini.

"Penelitian pun kini sedang berlangsung untuk menentukan apakah ada dampak pada tes deteksi antigen," kata WHO. (Channel News Asia)

Ikuti kami di
  Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas