Pelayan di Tanah Suci: di Balik Ketenangan Ibadah Jemaah Haji
Pelayanan petugas haji atau PPIH di Tanah Suci menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana nilai manfaat dana haji diterjemahkan di lapangan.
Penulis:
Arif Tio Buqi Abdulah
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
TRIBUNNEWS.COM - Langkah kaki seorang ibu paruh baya sempat terhenti di pelataran Masjid Nabawi, Madinah.
Raut wajahnya menunjukkan kelelahan setelah melakukan penerbangan lebih dari 9 jam. Namun, semangatnya seolah tak surut.
Dengan tangan yang menggenggam botol, ia menghampiri sosok berseragam yang berdiri di antara keramaian Masjid Nabawi.
"Bu, saya mau minum air zam-zam. Bagaimana mendapatkannya?," tanyanya.
Di hadapannya, Nunung Khoiriyah tak banyak bicara. Ia tersenyum, memberi isyarat untuk mengikuti, lalu berjalan perlahan menembus keramaian.
Beberapa menit kemudian, ibu itu akhirnya berdiri di dekat dispenser air zamzam.
Ia menuang air ke botol yang ia bawah, meminumnya pelan, lalu tersenyum haru.
"Alhamdulillah… terima kasih, Bu," ucapnya.
Nunung hanya mengangguk kecil.
Bagi sebagian orang, itu mungkin bantuan sederhana. Namun bagi Nunung, momen-momen seperti itulah yang membuat tugasnya terasa bermakna.
"Banyak jamaah yang baru pertama ke Masjid Nabawi, jadi masih bingung," kata Nunung saat berkisah kepada Tribunnews, Selasa (28/4/2026).
Sudah lebih dari sepuluh hari Nunung berada di Madinah. Ia tiba di pada Sabtu (18/4/2026) untuk menyiapkan berbagai pelayanan jamaah haji.
Kota Nabi itu mulai dipenuhi jamaah dari berbagai negara, termasuk puluhan ribu jamaah asal Indonesia yang datang bergelombang setiap hari.
Pagi di Madinah terasa sejuk. Namun menjelang siang, suhu perlahan naik hingga lebih dari 30 derajat Celsius.
Meski begitu, langkah jamaah menuju Masjid Nabawi hampir tak pernah berhenti.
Baca tanpa iklan