Pelayan di Tanah Suci: di Balik Ketenangan Ibadah Jemaah Haji
Pelayanan petugas haji atau PPIH di Tanah Suci menjadi salah satu bentuk nyata bagaimana nilai manfaat dana haji diterjemahkan di lapangan.
Penulis:
Arif Tio Buqi Abdulah
Editor:
Facundo Chrysnha Pradipha
Sebagian datang sambil membawa buku doa kecil. Sebagian lain berjalan berkelompok mengikuti rombongan.
Tidak sedikit pula lansia yang melangkah pelan dengan kursi roda atau tongkat.
Namun tujuan mereka hampir selalu sama: Raudhah, sebuah area di dalam Masjid Nabawi yang diyakini sebagai salah satu lokasi mustajab untuk berdoa.
Karena itulah, banyak jamaah rela antre dan menunggu demi bisa masuk meski hanya beberapa menit.
"Para jamaah yang baru datang ini, saking semangatnya untuk beribadah, kadang mereka lupa kondisi fisiknya," ujar Nunung.
Ia beberapa kali melihat jamaah memaksakan diri tetap berjalan ke masjid meski tubuh masih lelah setelah perjalanan panjang dari Indonesia.
Ada yang tetap datang meski lututnya sakit. Ada pula yang baru tiba dini hari, namun pagi harinya sudah kembali berangkat menuju Nabawi.
Pemerintah Indonesia melalui Daerah Kerja (Daker) Madinah telah mengatur sistem kunjungan ke Raudhah.
Jamaah lansia dan disabilitas diprioritaskan masuk secara kolektif, meski hanya satu kali selama masa tinggal.
Sementara jamaah lain yang lebih muda diarahkan menggunakan aplikasi digital untuk mendaftar secara mandiri.
Dengan cara ini, mereka yang melek teknologi bisa mendapatkan kesempatan masuk lebih dari sekali.
Namun di balik sistem yang terus diatur itu, Nunung melihat satu hal yang sama dari para jamaah, yakni keinginan untuk memaksimalkan ibadah selama berada di Tanah Suci.
Sementara bagi dirinya sendiri, kesempatan beribadah justru jauh lebih terbatas.
"Sepuluh hari di sini, saya baru sekali masuk Raudhah. Itu saat awal, belum ada banyak jamaah seperti sekarang," katanya.
Ia tidak mengeluh. Sejak awal berangkat sebagai petugas haji, ia sadar perannya berbeda dengan jamaah.
Baca tanpa iklan