Yusron Orang Indonesia Pertama Raih Penghargaan Higashikuni-Nomiya International Prize
Yusron Ihza Mahendra, mendapat penghargaan The Higashikuni-Nomiya International Prize
Editor: Rachmat Hidayat
Flying Geese Model yang ditulis Profesor Kaname Akamatsu pertengahan tahun 1930-an, sambung Yusron, juga mrupakan teori usang yang tidak lagi dapat diterapkan di lapangan sebagai akibat perubahan zaman.
Dalam kaitan industri Asia selain Jepang, dalam penelitiannya, secara analogis Yusron mengatakan bahwa “pohon-pohon industri di Asia selain Jepang diibaratkan pohon-pohon yang ditanam di dalam pot dan tidak mengakar di bumi Asia.
Karena itu, jika iklim berubah menjadi tidak kondusif, maka pohon-pohon tersebut akan dipindahkan pemiliknya ke negara lain, dan bumi Asia akan menjadi gersang.
Pernyataan Yusron di atas, terbukti beberapa bulan setelah disertasinya diuji, yaitu saat krisis moneter dan krisis ekonomi Asia terjadi pada tahun 1998. Sejak itu, secara perorangan, banyak pihak di Jepang yang mulai mengakui kesahihan pemikiran Yusron tersebut, terutama ketika ringkasan disertasi itu diterbitan di Jepang tahun 1999.
"Menunggu empat belas tahun bagi pengakuan resmi oleh sebuah lembaga, mungkin memang terlalu lama. Tapi saya tetap bersyukur dan bahagia karena pengakuan itu akhirnya saya dapatkan juga pada hari ini," ujar Yusron.
DisertasiYusron seakan memuktikan bahwa Flying Geese Model yang diklaim sebagai ciptaan Profesor Kaname Akamatsu itu adalah karya plagiat atau jiplakan dari karya Friedrich List yang terbit di Jerman pada penghujung abad ke-19.
"Profesor Akamatsu telah melakukan peminjaman pemikiran orang lain secara tidak sah dan mengklaim sebagai hasil pemikirannya," papar Yusron dalam pidatonya di hadapan hadirin yang sebagian besar berasal dari kalangan Jepang.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.