Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Jangan Ditiru, Orang Jepang Disarankan Bercinta Dulu Baru Menikah

Rendahnya minat orang Jepang untuk menikah mencuatkan saran agar bercinta dulu baru menikah. Tentu, jangan ditiru ya?

Jangan Ditiru, Orang Jepang Disarankan Bercinta Dulu Baru Menikah
smokyo
Pernikahan pasangan muda Jepang. 
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Rendahnya angka kelahiran dibanding kematian di Jepang membuat pusing banyak pihak, terutama pemerintah. Bagaimana kalau negeri ini penduduknya makin sedikit dan habis? 

Ai Aoyama (53) Penasehat seks Jepang terkenal saat ini menyarankan bagaimana kalau warga Jepang menikmati seks dulu baru menikah. Sebuah saran yang tentu tidak pantas ditiru untuk konteks masyarakat beragama di negara lain, termasuk Indonesia. Tapi ini Jepang!

"Saya pikir mungkin menarik kalau dibalik dari biasanya yang pacaran dulu, lalu menikah dan barulah seks. Kini diubah sebaliknya. Jadi silakan saja boleh melakukan seks bersama, lalu akan semakin mengenal, kalau merasa senang saling cinta barulah menikah. Tentu saja pakai kondom ya biar tidak hamil," paparnya memberikan solusi agar banyak yang menikah.

Hal ini sebenarnya seperti terjadi di zaman Edo (1603-1868) dulu di mana ada semacam matsuri (Festival) di hutan. Masyarakat yang mau mencari jodoh pergi ke hutan ikut matsuri tersebut ikut free seks, kalau sesuai ya menikah, "Matsuri semacam itu lalu dilarang di jaman Meiji," tekan Aoyama lagi.

Selain itu Aoyama juga menjelaskan adanya contoh seorang lelaki Jepang kaya, Takashi Fujita, 59, orang yang sangat kaya di Fukuoka selatan Jepang, "Dia punya tiga atau empat isteri, dua orang Jepang dua orang asing termasuk orang Bali," paparnya.

Karena kekayaannya dia bisa punya empat isteri dan tampaknya rukun-rukun saja semuanya. Tujuannya mungkin untuk memperoleh keturunan, punya anak sehingga bisa melanjutkan warisannya kepada anak-anaknya.

Cara demikian menurut Aoyama sah-sah saja bagus dan bisa meningkatkan jumlah keturunan sehingga meningkatkan jumlah penduduk Jepang. Hal ini, poligami yang dilarang Jepang sebenarnya baik, jadi mungkin perlu diubah ketentuan tersebut, "Kalau pun tidak diubah pun saat ini tampaknya banyak pria kaya Jepang punya selir kok dan mereka hidup rukun mungkin untuk memunculkan keturunan lebih banyak lagi, dan yang lelaki kaya bisa memberikan nafkah dengan baik jadi tak ada masalah," jelasnya.

Sehari-harinya Aoyama memberikan konsultasi seks kepada umum dengan tarif 30 menit seharga 5.000 yen dan satu jam 10.000 yen.  Bagi yang tertarik konsultasi seks dengannya silakan lihat situnya di: http://blog.livedoor.jp/aiaoyama/

Editor: Agung Budi Santoso
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas