Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Krisis Venezuela: 'Mengapa saya tetap setia kepada Nicolas Maduro'

Seorang perempuan muda Venezuela menjelaskan alasan tetap setia kepada Presiden Nicolas Maduro, sosok yang dituduh korupsi, pemerintahannya

Tribun X Baca tanpa iklan

Tak mudah bagi Angela Villarreal untuk menjadi chavista (pro-pemerintah) di Venezuela belakangan ini.

Meski demikian, perempuan berusia 24 tahun itu tetap menjadi pendukung setia Presiden Nicolas Maduro, di tengah krisis ekonomi parah dan tuduhan korupsi serta pelanggaran HAM yang ditujukan kepada pemerintah.

Negara itu juga terperosok dalam kekacauan politik dan kelembagaan setelah Juan Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Venezuela pada 23 Januari lalu.

Keluarga Villarreal sendiri - di Guatire, pinggiran ibu kota Caracas - terpecah belah secara politik. Ibunya seorang chavista, sementara sang ayah bukan.

Villarreal berasal dari keluarga profesional kelas menengah. Ia tengah menyelesaikan studi di jurusan sosiologi, bekerja di lembaga publik, dam merupakan anggota partai pemerintah - PSUV (Partai Persatuan Sosialis Venezuela).

Dalam wawancara dengan BBC, ia menjelaskan alasannya tetap setia kepada pemerintahan Maduro dan bagaimana, menurutnya, kebuntuan politik saat ini akan berakhir.

Sebuah solusi untuk krisis yang terjadi

Angela Villarreal
Fabiola Ferrero
Villarreal yakin pendukung pemerintah akan memenangkan pemilihan umum.

Saya merasa bahwa musuh sesungguhnya dari chavismo (dikenal juga dengan istilah chavezism: ideologi politik sayap kiri yang mengacu pada gaya pemerintahan mantan presiden Venezuela Hugo Chavez) adalah chavismo itu sendiri. Kita tidak punya satu pun kandidat untuk berkampanye menghadapi pemilu.

Rekomendasi Untuk Anda

Saya rasa solusi masalah saat ini adalah suara pemilih (elektoral): kita akan menang, bahkan jika mereka yang membuat peraturannya dan mengganti pejabat komisi pemilihan umumnya.

Ya, saya rasa kita akan menang bahkan dengan pemilu terbuka dengan semua kandidat dan partai yang ada. Banyak orang di luar negara kami yang tak memahami itu.

Akan sulit bagi mereka (pihak oposisi) untuk memanfaatkan ketidakpuasan yang mereka rasakan, sementara kami, chavista, lebih disiplin: kami memilih seorang kandidat dan itu cukup. Untuk memenangkan pemilu, Anda memerlukan usaha dari organisasi dan masyarakat akar rumput, dan saya tidak yakin pihak oposisi memiliki itu semua.

Chavismo telah merubah budaya masyarakat Venezuela. Saya tak mau membahas apakah perubahan itu menjadi semakin baik atau sebaliknya. Orang-orang itu (pihak oposisi) tidak memahami undang-undang (baru) negara ini. Pemerintahan Maduro memiliki hubungan yang terputus (dengan masyarakat), namun begitu juga pihak oposisi.

Krisis ekonomi dan ketidakpuasan

Keluarga Venezuela
Fabiola Ferrero
PBB memperkirakan tiga juta orang telah meninggalkan Venezuela sejak tahun 2015 akibat krisis ekonomi dan politik yang mendera negara itu.

Banyak sekali amarah yang muncul dan banyak orang telah meninggalkan chavismo. Bukan hanya pengikut, chavismo juga kehilangan energi. Beberapa orang mengatakan: "Saya seorang chavista, tapi menyakitkan bagi saya mengakuinya."

Para migran, masyarakat yang meninggalkan (negeri ini), sudah tidak percaya dengan chavismo dan merasa kecewa, tetapi lebih dari sekadar menentangnya, mereka tidak peduli lagi dengan apapun dan memilih membiarkan negara ini jatuh dalam kesedihan. Mereka meninggalkan segalanya dan kehilangan segalanya.

Oposisi 'meninggalkan' politik

Sebuah 'altar' didedikasikan untuk pemimpin Revolusi Bolivia, Hugo Chavez
AFP
Sebuah 'altar' bagi Hugo Chavez di sebuah lingkungan miskin bernama 23 de Enero di kota Caracas.

Polarisasi sosial sudah ada di Venezuela sejak dulu dan apa yang Hugo Chavez lakukan adalah menggiringnya ke ranah politik.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/3
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas