'Karena tidak divaksin, rahang saya pernah terkunci dan bahu tercengkeram'
Kisah Meredith, seorang perempuan Australia yang tidak mendapat vaksin waktu kecil dan akibat yang dideritanya hingga ia dewasa.
Meredith, bukan nama sebenarnya, memiliki ibu yang selalu curiga dengan vaksin.
Sewaktu kecil Meredith tidak pernah menerima vaksin dan ia harus berjuang melawan berbagai penyakit. Inilah kisahnya.
Pada suatu hari saya menginjak paku. Tak lama sesudahnya, rahang saya terkunci dan bahu tercengkeram. Paramedis membawa saya dengan ambulans ke rumah sakit terdekat.
Dokter di rumah sakit di Brisbane sangat kaget melihat keadaan saya: saya tetanus, dan sudah 30 tahun mereka tak melihat pasien dengan diagnosis ini.
- Vaksinasi polio: Kisah ulama yang patahkan isu vaksin membuat perempuan Muslim mandul
- Tingkat imunisasi juga merosot di Filipina: Cemas vaksin demam berdarah?
- Skandal vaksin merebak di Cina, Perdana Menteri perintahkan tindakan tegas
Dokter yang merawat saya mengambil sel darah orang yang pernah terkena tetanus dan memasukkan ke tubuh saya dengan harapan agar sel-sel darah putih di tibuh saya mengenali dan melawannya.
Perawatan ini membuat kondisinya membaik.
Di tengah rasa sakit, saya merasa marah ke ibu saya karena ia sengaja tidak memberi saya vaksinasi.
Dengan vaksinasi, tetanus seperti yang saya alami sebenarnya bisa dihindari.
Ibu, nenek dan bibi saya orang yang percaya mistis dan mereka bergaya hidup "hippies" yang percaya tubuh bisa sembuh sendiri secara alamiah.
Indoktrinasi
Saya lahir dan tumbuh di Selandia Baru dan setiap kali pilek, akan disuruh untuk makan mentimun.
Umur tiga tahun saya sering mengalami kejang-kejang. Diagnosis dokter, saya menderita hipoglikemia di mana tubuh saya memproduksi terlalu banyak insulin.
Dokter memberi obat, tapi ibu tak pernah meminumkannya kepada saya.
Katanya, kalau saya memakan obat itu, tubuh saya bakal dipenuhi rambut dan dahi saya perlu dicukur setiap hari sebelum berangkat ke sekolah.
Kata ibu, perusahaan obat sengaja menyembunyikan informasi uji coba obat. Menurutnya, obat-obat diuji coba ke anjing, dan lima dari tujuh anjing yang diuji coba mati. Lalu mereka terus menguji ke manusia, demikian katanya.