Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

'Karena tidak divaksin, rahang saya pernah terkunci dan bahu tercengkeram'

Kisah Meredith, seorang perempuan Australia yang tidak mendapat vaksin waktu kecil dan akibat yang dideritanya hingga ia dewasa.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Di umur 11, sekolah memberi vaksin MMR. Biasanya mereka mengirim formulir persetujuan, tapi ibu selalu mengisi "tidak" di kolom persetujuan orang tua.

Sampai ada satu yang terlewat, yaitu vaksinasi campak.

Saya pulang ke rumah dengan kapas di lengan saya, di tempat bekas injeksi.

Saya bilang ke ibu semua di sekolah dapat injeksi ini. Ia melonjak kaget dan berkata dengan keras, "kenapa tak menghentikan mereka dan menelepon saya?!"

Ibu segera masuk ke mobil dan bersegera ke sekolah. Sepulangnya ia tampak sangat marah dan menyatakan, "Kamu tak akan kembali ke sekolah itu lagi."

Itu ternyata hari terakhir saya sekolah, karena ibu mengeluarkan saya dari sana. Bahkan saya tak sempat berpisah dengan teman-teman. Teman-teman saya mungkin heran mengapa saya menghilang begitu saja.

Tiga minggu kemudian kami pindah ke negara lain. Saya merasa sangat bersalah. Saya tak menyangka mendapat vaksinasi menyebabkan segala masalah ini dan membuat saya tercabut dari tempat tinggal kami.

Suntikan dan obaty
BBC

Yeti

Rekomendasi Untuk Anda

Tak ada yang pernah menjelaskan kepada saya, apa itu vaksinasi. Saya dengar dari ibu, vaksinasi adalah embrio ayam dan kodok yang diinjeksikan ke dalam tubuh.

Ini adalah masa sebelum internet, dan sumber informasi utama kami adalah majalah-majalah yang dilanggan oleh nenek.

Tahun 2009 saya pindah ke Brisbane dengan pasangan saya, dan nenek saya menangis. Ia membujuk agar saya tidak pergi, "Banyak yeti di gunung Tamborine," katanya.

Gunung Tamborine adalah gunung di negara bagian Queensland, Australia. Saya tak habis pikir bagaimana saya bisa hidup dengan orang yang percaya yeti seperti nenek saya itu.

Yeti adalah makhluk mistis yang menurut cerita rakyat hidup di pegunungan Himalaya.

Batuk rejan

Tahun 2016 saya menderita batuk parah.

Butuh empat orang dokter selama masa enam minggu untuk akhirnya saya didiagnosis dengan benar bahwa saya menderita batuk rejan, yang dikenal juga dengan nama batuk seraus hari.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/3
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas